Jakarta (ANTARA) - Indonesia menyebut diri sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi perhatian strategisnya terhadap laut, tampaknya, masih belum sebanding dengan besarnya laut yang dimilikinya.
Karena itu, pernyataan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto, di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat, 11 Agustus, menarik perhatian dan layak dicermati.
Di hadapan sekitar 4.000 mahasiswa, Santo menyebut posisi Indonesia di antara Samudra Hindia dan Pasifik sebagai potensi strategis yang membutuhkan diplomasi agar berubah menjadi peluang nyata.
Menurut dia, melalui Indian Ocean Rim Association (IORA), Indonesia mencoba menerjemahkan posisi geografis yang dimilikinya itu menjadi kepentingan nasional.
Masalahnya, letak geografis tidak pernah otomatis menjadi kekuatan. Peta geografis hanya menunjukkan posisi. Ia tidak menjamin pengaruh.
Sebuah negara bisa berada di jalur perdagangan paling sibuk di dunia tetapi tetap hanya menjadi tempat kapal lewat. Ia bisa memiliki wilayah laut luas tetapi tidak memiliki industri kelautan yang kuat. Ia bisa mempunyai garis pantai panjang tetapi masyarakat pesisirnya tetap miskin.
Dalam kaitan inilah, geopolitik menjadi hal penting, yaitu bagaimana posisi geografis bisa dikonversi menjadi kapasitas politik, ekonomi, teknologi, dan keamanan.
Samudra Hindia bukanlah ruang kosong. Kawasan ini merupakan jalur utama perdagangan dan energi dunia. Sebagai rute yang menghubungkan kawasan Teluk Persia, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika Timur hingga Asia Timur, menjadikan Samudra Hindia bagian penting dari jaringan ekonomi global.
Menurut International Energy Agency, sebagian besar perdagangan minyak dunia masih bergerak melalui jalur laut. Ketika energi dan perdagangan dunia sangat bergantung pada laut, keamanan Samudra Hindia otomatis mempunyai konsekuensi jauh melampaui negara-negara yang pantainya menghadap samudra tersebut.
Indonesia memang tidak berada di tengah Samudra Hindia seperti India atau Sri Lanka. Namun, Indonesia merupakan negara kepulauan yang menjadi penghubung antara Samudra Hindia dan Pasifik.
Selat Sunda, Selat Lombok, dan sejumlah alur laut kepulauan lainnya memberikan Indonesia posisi penting dalam konektivitas maritim global. Dalam terminologi geopolitik, posisi seperti ini bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah strategic leverage, sebuah daya tawar yang bisa digunakan jika negara memiliki kapasitas untuk mengelolanya.
Tersedot ke utara
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































