Bekasi, Jawa Barat (ANTARA) - Pendiri yayasan pusat edukasi Rumah Perubahan Rhenald Kasali menekankan pentingnya pemanfaatan big data untuk mencari dan memastikan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus komunikasi digital.
Menurut Rhenald, ditemui usai diskusi yang digelar di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, saat ini terdapat dua model komunikasi yang berjalan bersamaan.
Pertama, komunikasi massa yang dilakukan media arus utama dengan pola kerja yang jelas, mulai dari wartawan hingga editor.
Serta kedua, komunikasi publik yang berlangsung di ranah media, termasuk media sosial, di mana masyarakat atau netizen memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
"Komunikasi publik ini sekarang dipercayai lebih cepat ketimbang yang yang melalui proses ini (redaksi), cepat, spontan, dan selalu mengoreksi," ujarnya.
Menurutnya, sekitar separuh informasi yang beredar bisa benar, sementara sisanya meragukan, belum terverifikasi, atau bahkan salah dan mengandung hoaks.
Bahkan, sebagian konten diproduksi oleh robot atau akun otomatis yang seolah-olah tampak seperti manusia.
Dalam situasi tersebut, Rhenald yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia menilai big data menjadi instrumen penting untuk memilah dan memverifikasi informasi.
Menurutnya, melalui analisis data, publik dapat menelusuri sumber informasi, tingkat kredibilitas penyampaian, hingga proporsi akun manusia dan robot yang terlibat dalam penyebaran suatu isu.
Ia mencontohkan isu-isu seperti kepercayaan masyarakat terhadap rupiah atau kabar tentang dampak suatu produk terhadap kesehatan.
Dengan big data, dapat dianalisis siapa yang menyampaikan informasi tersebut, apakah memiliki kompetensi, serta seberapa luas dan masif penyebarannya.
"Bisa jadi satu kebohongan, tapi kalau didapat oleh jutaan orang, itu dianggap satu kebenaran. Jadi itu berbahaya, maka harus ada counter narasi. Jadi big data singkatnya itu bisa mencari kebenaran dan bisa menarasikan pertarungan antar media ini," katanya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Rumah Perubahan hadir sebagai ruang pembelajaran untuk memahami, membaca, dan melakukan perubahan. Lembaga tersebut tidak hanya mengajarkan teori transformasi, tetapi juga praktik langsung dalam berbagai bidang.
Rhenald menuturkan sejak 1998 pihaknya telah melatih kewirausahaan yang terus tumbuh dan berkembang menjadi pengembangan kewirausahaan sosial. Selanjutnya, konsep disrupsi diperkenalkan sebagai respons atas perubahan zaman.
"Maka orang bisa melihat bahwa kami sendiri juga melakukan perubahan. Tempatnya ada di sini, edukasinya ada di sini," katanya.
Sementara itu, Direktur Deep Intelligence Research Neni Nur Hayati menekankan pentingnya pemanfaatan big data dalam diseminasi informasi di era digital yang kian kompleks.
Menurut Neni, tanpa data yang kuat, institusi, baik korporasi maupun pemerintahan akan kesulitan membaca realitas publik secara akurat.
Ia menjelaskan bahwa realitas hari ini tidak lagi terbentuk secara alamiah, melainkan dikonstruksi melalui algoritma dan percakapan digital yang berlangsung secara real time.
"Algoritma dikendalikan oleh manusia, tapi manusia juga mengendalikan algoritma," katanya.
Dalam konteks ini, big data menjadi infrastruktur utama untuk memahami bagaimana opini publik terbentuk, bagaimana tone pemberitaan berkembang, serta bagaimana emosi masyarakat bergerak.
Baca juga: ANTARA soroti pentingnya big data dalam diseminasi informasi
Baca juga: Wamenkomdigi sebut "big data" percepat transformasi digital Pemda
Baca juga: Sektor digital diproyeksikan sumbang 8 persen terhadap PDB
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































