Jakarta (ANTARA) - Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan terus memberikan pelayanan kesehatan sekaligus melakukan pemetaan risiko penyakit di lokasi pengungsian terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang khususnya di Desa Sukajadi.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, salah satu tenaga medis relawan dr. Muhammad Fahriza dari RSUD Sungai Daerah, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan di posko tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga upaya mitigasi penyakit pascabencana.
Pada hari pertama pelayanan, tim relawan menemukan sejumlah penyakit yang cukup dominan di lokasi pengungsian, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi, dan diare. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terkait faktor risiko, terutama yang berkaitan dengan sanitasi dan pola konsumsi masyarakat.
“Saat ini kami melakukan pelayanan kesehatan di posko sekaligus melakukan mapping penyakit yang banyak ditemui. Di hari pertama, kasus yang cukup dominan adalah ISPA, hipertensi, dan diare. Ke depan, data ini akan kami telusuri lebih lanjut, apakah berkaitan dengan makanan, sanitasi, atau faktor lingkungan lainnya,” ujar dr. Fahriza.
Dia menjelaskan setelah melakukan pencatatan data awal, tim akan turun langsung ke tenda-tenda pengungsian untuk mengidentifikasi akar permasalahan kesehatan yang ada, sehingga intervensi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.
“Kami turun langsung ke tenda-tenda untuk mencari permasalahan yang ada. Dari situ, kami bisa langsung melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat agar kondisi kesehatan mereka ke depan bisa lebih baik,” katanya.
Baca juga: Kemenkes koordinasi 4 ribuan relawan bantu layanan kesehatan Sumatera
Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, tim relawan terlebih dahulu mengumumkan kepada masyarakat terkait keberadaan pos kesehatan, melakukan pendaftaran, pemeriksaan tanda-tanda vital, hingga pemberian pelayanan medis. Apabila ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk sesuai kondisi.
“Jika ada kasus yang memerlukan rujukan, kami akan koordinasikan dengan puskesmas atau langsung ke rumah sakit, tergantung kondisi mana yang paling menguntungkan dan aman bagi pasien,” kata dia.
Hingga saat ini, belum ditemukan lonjakan signifikan penyakit menular di lokasi pengungsian. Meski demikian, ISPA masih menjadi kasus yang paling banyak dijumpai dan terus dimitigasi agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.
Selain aspek fisik, tim relawan juga memperhatikan kondisi kesehatan mental masyarakat terdampak bencana.
“Kondisi mental masyarakat saat ini sudah mulai pulih. Memang masih ada yang mengalami trauma, namun secara umum masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan kondisi yang ada, mengingat bencana ini sudah berlangsung sekitar satu bulan,” ungkapnya.
Tim relawan juga melakukan pemetaan sanitasi lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi penyakit pascabencana. Namun, dr. Fahriza mengakui masih terdapat keterbatasan fasilitas dan peralatan kesehatan di lapangan.
“Ketersediaan obat-obatan, terutama obat kronik, serta alat kesehatan dan fasilitas pemeriksaan laboratorium sederhana masih sangat terbatas. Jika fasilitas ini dapat dilengkapi, pelayanan kesehatan tentu akan lebih efektif,” katanya.
Baca juga: Kemenkes fokus pulihkan layanan kesehatan pascabencana Sumatera
Tim TCK yang bertugas di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, terdiri dari satu orang dokter, dua perawat, satu tenaga kesehatan lingkungan, dan satu apoteker.
Tim terus berupaya memberikan pelayanan terbaik sekaligus melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi peningkatan kasus penyakit di wilayah pengungsian.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































