Jakarta (ANTARA) - Dua puluh enam tahun lalu, di tahun 2000, masyarakat Indonesia punya tontonan yang ditunggu-tunggu pada akhir pekan di layar kaca. Bukan, bukan sinetron atau film kungfu, apalagi telenovela. Ini tentang olahraga.
Namun, bukan sepak bola, bukan juga bulu tangkis --dalam dua cabang ini seperti wajib nobar bagi Warga Negara Indonesia..Olahraga ini adalah balap motor. Ya, MotoGP. Jagoannya? Valentino Rossi!
Bagi masyarakat Indonesia saat itu, menonton MotoGP dengan sosok Valentino Rossi di tiap balapannya itu sama serunya dengan nonton Piala Dunia. Rossi di MotoGP itu seperti sang jagoan pemeran utama yang gonta-ganti "musuh" untuk dikalahkan. Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Jorge Lorenzo, hingga yang paling kontroversial dan menjadi rival abadi hingga saat ini, Marc Marquez.
Drama. Penampilan Rossi di MotoGP memang berlimpah drama. Oleh karena itulah dia banyak diidolakan oleh fans MotoGP di tanah air.
Maaf untuk penggemar Marc Marquez, Rossi terbukti lebih digemari oleh masyarakat dengan seringnya pembalap Italia itu berkunjung ke Indonesia, jadi duta salah satu jenama sepeda motor, dan tidak sedikit tampil bersama Komeng di layar kaca. Bahkan hingga saat ini, BUMN migas Indonesia, Pertamina, menjadi sponsor utama VR46 Racing Team.
Namun, ketika masa keemasan sang peraih enam gelar juara MotoGP itu mulai memudar dan akhirnya pensiun di tahun 2021, lamat-lamat gairah menonton MotoGP mulai berkurang bagi sebagian orang.
Tinggal fans Marc Marquez yang terhibur lantaran hanya dia yang bisa menyamai panjangnya karier balap dan gelar juara dunia MotoGP yang diraih oleh Rossi. Masih ada yang menonton MotoGP, tapi tidak semasif era Rossi dulu. Pokoknya sepi.
Tapi kini, di tahun 2026, gairah menonton MotoGP bagi masyarakat Indonesia seperti kembali ke masa tahun 2000-an. Fans Valentino Rossi berbondong-bondong balik menonton balapan motor itu. Tapi bukan untuk menanti balapan di kelas utama MotoGP, melainkan Moto3, dengan jagoan baru yang kali ini asli Indonesia, remaja 17 tahun dari Gunungkidul Yogyakarta bernama Veda Ega Pratama.
Baca juga: Ramadhipa banyak belajar dari Veda dan Mario Aji
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































