Ragam tradisi 27 Ramadhan di negeri pulau pulau

3 hours ago 1
praktik-praktik budaya yang tumbuh dari masyarakat seperti yang terlihat dalam tradisi malam 27 Ramadan di Maluku, merupakan contoh nyata bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam menciptakan kehidupan yang harmonis.

Ambon (ANTARA) - Malam ke-27 Ramadan, yang di kawasan kepulauan Maluku dikenal sebagai malam tujuh likur, tidak sekadar menjadi penanda menjelang berakhirnya bulan suci, tetapi juga menjelma menjadi ruang perjumpaan antara nilai religius dan warisan budaya yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.

Di Negeri Batu Merah, Ambon, menyambut malam tujuh likur, tradisi antar dulang makanan oleh sembilan marga adat masih terjaga sebagai bagian dari ritus kolektif yang sarat makna. Dulang berisi aneka makanan dan buah-buahan diarak dari rumah-rumah warga, melintasi jalan kampung, sebelum akhirnya dikumpulkan untuk disantap bersama.di Masjid An-Nur yang dikenal sebagai masjid pertama di Ambon.

Setiap dulang dihias dengan ornamen khas dan penanda nama marga, yakni Lebeharia, Hatala, Masahoy, Lisaholet, Tahalua, Nurlete, Waliulu, Namang, dan Hunsow, sebagai simbol identitas sekaligus penegas ikatan kekerabatan. Prosesi ini tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan yang kuat.

Sebelum santap bersama, masyarakat menggelar khataman Al Quran yang dibacakan secara bergantian oleh remaja masjid hingga perwakilan marga, lalu ditutup dengan doa keselamatan. Setelah doa dipanjatkan, suasana berubah menjadi riuh ketika anak-anak berlarian menuju dulang. Mereka berebut makanan, buah-buahan, hingga ornamen yang dihiasi uang pecahan.

Raja Negeri Batu Merah, Ali Hatala, menyampaikan bahwa tradisi antar dulang tersebut merupakan warisan leluhur. Ia mengatakan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk syukuran, di mana warga datang membawa makanan untuk dinikmati bersama sebagai ungkapan rasa terima kasih atas rezeki yang diberikan selama setahun.

Ia juga menuturkan bahwa tradisi tersebut memiliki peran penting dalam mempererat silaturahmi antar marga di Negeri Batu Merah, sehingga tidak hanya bernilai religius, tetapi juga sosial.

Setiap pelaksanaan malam tujuh likur di Batu Merah selalu menghadirkan rasa haru bagi warga setempat, mengingat acara seperti itu sudah jarang ditemukan, terutama di wilayah perkotaan.

Tradisi sederhana tapi penuh makna ini menghadirkan kegembiraan yang sulit ditemukan di tempat lain, sekaligus menjadi alasan penting untuk terus melestarikannya.

Baca juga: Menjaga tradisi mudik di kepulauan Maluku

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |