Jakarta (ANTARA) - Ketua DPR RI Puan Maharani menyatakan rakyat harus segera mendapat solusi di tengah kondisi masih banyaknya bencana alam terjadi dalam beberapa waktu terakhir, terlebih ada bencana yang berulang.
Puan, sebagaimana keterangan diterima di Jakarta, Rabu, menyebut hampir 700 bencana alam terjadi dalam kurun waktu tiga bulan ini. Kondisi itu memperlihatkan masih rentannya masyarakat terhadap bencana alam.
“Dengan masih banyaknya bencana alam, terutama bencana yang berulang. Hal ini harus dilihat sebagai bentuk kerentanan rakyat terhadap bencana alam yang belum banyak bergeser dan harus segera mendapat solusi,” kata dia.
Menurut dia, rentetan bencana alam hingga awal April 2026 perlu dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan tekanan kebencanaan yang semakin padat, luas, dan kompleks dampak sosialnya.
“Persoalannya tidak lagi cukup dipahami sebagai akumulasi peristiwa alam musiman, tetapi juga sebagai gambaran bahwa banyak ruang hidup masyarakat masih berada dalam kondisi rentan terhadap gangguan kebencanaan alam yang berulang,” ujarnya.
Puan mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan hanya bagaimana negara bergerak setelah kejadian, melainkan juga bagaimana sistem nasional bisa membaca pola kerentanan yang terus muncul di titik-titik yang relatif sama.
Jika banjir berulang kembali mendominasi maka persoalan tata air, kapasitas lingkungan, dan kesiapan kawasan permukiman belum sepenuhnya bergerak secepat perubahan risiko yang dihadapi masyarakat.
Dalam konteks seperti ini, menurut Puan, data kejadian bencana seharusnya tidak berhenti sebagai statistik mingguan, tetapi mesti menjadi dasar koreksi yang lebih tajam terhadap wilayah yang paling sering menerima dampak.
“Dan yang paling perlu dijaga dalam situasi kebencanaan berulang adalah kemampuan keluarga bertahan setelah bencana berlalu. Ini harus jadi perhatian pemerintah,” katanya menegaskan.
Di samping itu, ia menyebut beban terpanjang pascabencana berada pada fase pemulihan, yaitu ketika rumah rusak, penghasilan terhenti, sekolah terganggu, dan keluarga harus mengatur ulang kehidupan dengan sumber daya terbatas.
Oleh karenanya, dia menilai ukuran penanganan bencana tidak cukup dari kecepatan bantuan awal saja, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan masyarakat tidak berulang kali kembali ke titik kerentanan yang sama.
Menurut dia, jika satu wilayah terus mengalami gangguan serupa dari tahun ke tahun, yang dibutuhkan bukan hanya respons yang lebih cepat, melainkan juga keberanian memperbaiki sumber kerentanannya secara bertahap dan terukur.
“Pada akhirnya, yang paling penting dijaga adalah agar masyarakat tidak merasa hidup dalam siklus kerusakan yang terus berulang tanpa perubahan yang nyata,” tuturnya.
Baca juga: Puan: Pemerintah sigap pastikan keselamatan warga pascagempa Sulut
Baca juga: Ketua DPR ingatkan WFH ASN tetap jaga produktivitas pelayanan publik
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































