Jakarta (ANTARA) -
Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyarankan orang tua menyediakan aktivitas alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan psikologis remaja agar ketergantungan pada media sosial dapat berkurang secara alami.
Ia mengatakan, agar efektif, aktivitas pengganti sebaiknya tetap memenuhi kebutuhan dasar yang selama ini diperoleh remaja dari media sosial, seperti koneksi sosial, ekspresi diri, dan rasa kompeten.
“Saya biasanya merangkum alternatif ini dengan akronim KREASI agar mudah diingat,” ujar psikolog yang kerap dipanggil Tesya itu saat dihubungi ANTARA pada Jumat.
Baca juga: Psikolog: Larangan total media sosial berisiko picu perlawanan remaja
K dalam KREASI berarti Komunitas. Remaja dapat diarahkan mengikuti klub olahraga, komunitas seni, atau kegiatan organisasi yang memberi ruang interaksi langsung.
R berarti Ruang Kreatif. Kegiatan seperti menggambar, membuat musik, menulis cerita, atau membuat video kreatif tanpa harus dipublikasikan dapat menjadi sarana ekspresi diri yang sehat.
E berarti Eksplorasi Minat. Remaja dapat mencoba keterampilan baru seperti memasak, fotografi, coding, atau bidang lain yang sesuai dengan ketertarikan mereka.
Baca juga: Psikolog: Media sosial penuhi kebutuhan identitas remaja
A berarti Aktivitas Fisik. Teresa menekankan olahraga terbukti membantu regulasi emosi sekaligus menjaga kesehatan mental.
S berarti Sosialisasi Offline. Interaksi langsung dengan teman sebaya penting untuk melatih empati dan keterampilan sosial.
I berarti Interaksi Keluarga. Aktivitas sederhana seperti bermain gim bersama, berdiskusi santai, atau mengerjakan proyek keluarga dapat memperkuat relasi dan komunikasi.
Baca juga: Prinsip SMART atur penggunaan medsos tanpa picu konflik
Menurut Tesya, ketika kebutuhan psikologis remaja terpenuhi melalui aktivitas nyata, ketergantungan pada media sosial biasanya berkurang tanpa perlu pendekatan yang terlalu represif.
“Jika anak merasa terhubung, mampu, dan punya ruang berekspresi di dunia nyata, dorongan untuk mencari validasi di media sosial cenderung menurun,” katanya.
Ia menilai pendekatan ini lebih berkelanjutan dibanding sekadar membatasi durasi penggunaan tanpa menyediakan alternatif yang setara secara psikologis.
Baca juga: PKPA: Pengawasan implementasi Permenkomdigi 9/2026 penting
Baca juga: PP Tunas dan Lebaran sehat buat anak
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































