Psikolog jelaskan tahapan bermain anak sesuai perkembangan usia

5 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis dan keluarga lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada Pritta Tyas M. Psi., menjelaskan tahapan bermain anak secara spesifik yang disesuaikan dengan fase perkembangan usia anak.

Pembagian aktivitas bermain yang dikembangkan oleh tokoh ternama dr Maria Montessori tersebut ditujukan agar manfaat bermain tidak sekadar menjadi hiburan, tapi juga membentuk stimulasi tumbuh-kembang yang terukur.

"​Sebenarnya bermain itu ada tahapannya, jadi kalau anak sampai usia delapan tahun, riset dia itu bilang: 'sehari anak-anak harus paling enggak 180 menit bergerak'. Bagus lagi kalau bergerak dalam artian olah raga," kata Pritta dalam sesi bincang-bincang di LEGO Playground, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat.

Co-founder Bumi Nusantara (BN) Montessori itu menjelaskan, berdasarkan riset ​dokter Maria Montessori, permainan pada tahapan usia tersebut adalah permainan motorik atau suatu permainan yang dapat dimainkan anak dengan tangannya.

"Dokter Maria Montessori bilang, sesuatu yang anak mainkan dengan tangan itu yang akan masuk dalam memori dan kognitifnya," kata Pritta.

Baca juga: Psikolog sebut bermain sarana belajar efektif bagi tumbuh-kembang anak

Pritta merinci pada usia anak sampai 8 tahun, fokus utama adalah kebutuhan bergerak fisik, di mana anak disarankan untuk melakukan aktivitas bergerak atau olahraga setidaknya 180 menit sehari.

Memasuki usia sembilan hingga 15 tahun, anak-anak mulai membutuhkan teman sebaya (peers) sebagai bagian dari perkembangan sosialnya.

Pada fase ini, menurut tenaga pengajar tersertifikasi (Diploma Montessori) itu, interaksi seperti bermain bersama di luar ruangan, memasak, atau membuat kerajinan menjadi sangat penting untuk melatih kemampuan sosial dan kerjasama.

"Misalnya anak cowok tadi itu main bola, kalau cewek main merias-riasan, masak bareng, begitu, ya tapi dia punya peers. Dan apakah digital boleh masuk di situ? Pasti kita ingin generasi Alfa melek digital, jadi, boleh, tapi dengan panduan (orang dewasa)," kata Pritta.

Pritta mengatakan aktivitas bermain yang wajar pada usia tersebut tetap harus dibatasi. Semisal dalam satu hari, maksimal 60 sampai 90 menit.

Pembatasan itu ditujukan untuk menerapkan kedisiplinan waktu kepada anak, karena ada waktu kumpul bersama keluarga, dan lain-lain.

"Misalnya ada waktu makan, jangan sampai anak terbiasa makan sambil main game, misalnya," kata Pritta.

Baca juga: Lima keterampilan psikologis yang perlu dipelajari anak sejak dini

Pritta mengatakan peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak-anak saat mereka bermain, tapi bukan membatasi untuk menimbulkan resiliensi dari anak.

Dia berharap orang tua mengetahui tahapan perkembangan anaknya sesuai usia tersebut agar dapat memfasilitasi jenis permainan yang seperti apa untuk diberikan kepada anak.

Tujuannya agar pembelajaran langsung anak-anak berjalan efektif dan orang tua mampu menyediakan waktu dan modal untuk mendampingi anak-anak saat sedang bermain.

"Terkadang, anak hanya butuh semacam scaffolding - dukungan yang tepat — agar rasa ingin tahu (curiosity) mereka tetap menyala," kata Pritta.

​Menjadi mitra eksplorasi berarti mempererat "bonding" tanpa harus mendikte hasil akhirnya.

"Saat orang tua hadir mendampingi anak bermain tanpa menghakimi, kita sebenarnya sedang menanamkan modal paling berharga bagi mereka: kepercayaan diri bahwa mereka mampu belajar, mampu mencoba, dan mampu menjadi hebat dengan caranya sendiri," kata Pritta.

Baca juga: Bermain gawai berlebihan hambat proses sinapsis pada otak anak

Baca juga: Ahli sebut aktivitas mewarnai stimulasi anak tumbuh kembang optimal

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |