Protokol keselamatan kereta di China: Sistem CTCS hingga big data-AI

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - China dikenal sebagai negara dengan jaringan kereta api terbesar dan tercepat di dunia, dengan jaringan kereta api cepat yang telah beroperasi saja sudah lebih dari 50.400 kilometer.

Dalam dua dekade terakhir, negeri ini berhasil membangun sistem transportasi rel modern yang menghubungkan ribuan kilometer wilayah dengan tingkat keselamatan operasional yang sangat tinggi. Keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang oleh teknologi kereta cepat, tetapi juga oleh penerapan protokol keselamatan yang ketat, terintegrasi, dan berbasis digital.

China sendiri pernah mengalami tragedi kecelakaan kereta pada 2011 lalu di Wenzhou yang memakan korban puluhan jiwa. Insiden tersebut menjadi titik balik reformasi keselamatan kereta nasional.

Setelah kecelakaan itu, pemerintah China melakukan audit besar-besaran sistem sinyal, evaluasi teknologi kontrol kereta, peningkatan standar inspeksi, pengetatan sertifikasi operator, hingga modernisasi sistem komunikasi. Hasil reformasi tersebut membuat tingkat keselamatan kereta cepat China meningkat signifikan dalam dekade berikutnya.

Seorang turis bermain di ladang bunga rapeseed saat kereta cepat melintas di Distrik Longmatan, Luzhou, Provinsi Sichuan, China, pada 26 Februari 2026. (Xinhua/Mou Ke)

Salah satu inti utama keselamatan perkeretaapian China adalah implementasi Chinese Train Control System (CTCS), yaitu sistem pengendalian kereta otomatis yang dikembangkan khusus untuk jaringan rel nasional China.

Sistem ini memiliki fungsi utama mengontrol kecepatan kereta secara otomatis, menghindari tabrakan antarkereta, mengatur jarak aman perjalanan, memberikan perlindungan pengereman otomatis, dan memantau posisi kereta secara real-time.

CTCS sendiri terdiri dari beberapa level teknologi, mulai dari CTCS-0 hingga CTCS-4. Pada jalur kereta cepat modern, China umumnya menggunakan CTCS-3, yang telah mendukung komunikasi digital dua arah berbasis GSM-R antara kereta dan pusat kendali.

Dalam sistem CTCS-3, posisi kereta dipantau secara terus menerus, pusat kontrol dapat memberikan izin perjalanan secara real-time, sistem otomatis akan mengaktifkan pengereman jika masinis melampaui batas kecepatan, sementara jalur kereta dipantau menggunakan balise, track circuit, dan radio block center.

Teknologi tersebut memiliki fungsi serupa dengan sistem ETCS Level 2 di Eropa dan dianggap sebagai salah satu sistem pengendalian kereta paling maju di dunia.

China menerapkan sistem operasi berbasis pusat kendali nasional yang mampu memonitor lalu lintas kereta secara simultan. Seluruh perjalanan kereta cepat dipantau melalui Traffic Control Center (TCC), Radio Block Center (RBC), sistem komunikasi GSM-R, serta monitoring digital berbasis AI dan big data.

Foto dari udara yang diambil dengan menggunakan drone pada 1 Februari 2026 ini menunjukkan deretan kereta api berkecepatan tinggi bersiap untuk beroperasi di Xi'an, Provinsi Shaanxi, China. (Foto oleh Zhang Wen/Xinhua)

Keselamatan rel di China sangat bergantung pada sistem inspeksi berkala yang ketat. Jalur kereta cepat diperiksa menggunakan kereta inspeksi berkecepatan tinggi, sensor getaran rel, pemantauan suhu rel, drone pengawas jalur, hingga kamera AI pendeteksi retakan.

Inspeksi dilakukan hampir setiap hari pada jalur utama kereta cepat. Teknologi sensor memungkinkan kerusakan kecil terdeteksi sebelum berkembang menjadi kegagalan sistem.

Selain itu, China menerapkan prinsip preventive maintenance, yaitu perawatan sebelum kerusakan terjadi. Pendekatan ini membuat tingkat gangguan operasional dapat ditekan secara drastis.

Inspeksi dilakukan berulang kali pada masa sibuk seperti libur Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, dan Hari Buruh. Pada masa liburan Hari Buruh tahun ini saja, jumlah perjalanan penumpang yang dioperasikan oleh jaringan perkeretaapian China pada periode 29 April hingga 6 Mei tercatat tembus 159 juta.

Terkait protokol keselamatan, masinis kereta di China menjalani pelatihan yang sangat ketat dan terstandardisasi. Protokol keselamatan mencakup sertifikasi nasional operator, simulasi keadaan darurat, pemeriksaan kesehatan berkala, pengawasan jam kerja, serta larangan penggunaan perangkat pribadi saat operasi.

Kabin masinis juga dilengkapi sistem pengawasan digital yang memonitor konsentrasi masinis, respons terhadap sinyal, kecepatan reaksi, dan kondisi operasional kereta. Jika masinis tidak merespons sistem dalam waktu tertentu, sistem ATP (Automatic Train Protection) dapat mengambil alih pengereman secara otomatis.

Dua orang masinis kereta melakukan latihan simulasi mengemudi di pangkalan pelatihan simulasi di Beijing, China, pada 20 Januari 2026. Menjelang Festival Musim Semi, para staf kereta api cepat di Beijing sibuk melakukan persiapan untuk melayani lonjakan perjalanan Festival Musim Semi dengan lebih baik. (Xinhua/Li An)

Dalam protokol darurat, kereta akan otomatis berhenti di zona aman, pusat kontrol mengirim instruksi real-time, penumpang dievakuasi sesuai jalur darurat, tim respons cepat diterjunkan ke lokasi, dan jalur langsung diisolasi dari lalu lintas lain.

Kereta modern di China juga dilengkapi sistem pemadam kebakaran otomatis, emergency brake, sensor asap, komunikasi darurat dua arah, serta pintu evakuasi otomatis.

Jalur kereta cepat China dibangun dengan standar teknik tinggi untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Infrastruktur keselamatan meliputi jalur rel khusus tanpa perlintasan sebidang, pagar pengaman sepanjang jalur, terowongan dan jembatan tahan gempa, sistem drainase antibanjir, serta pemantauan struktur secara digital.

Sebagian besar jalur kereta cepat dibangun di jalur layang atau koridor tertutup untuk menghindari gangguan kendaraan maupun manusia.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |