Jakarta (ANTARA) - Kekayaan varietas bambu Indonesia beserta ragam cara pengolahannya diperkenalkan dalam Program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan.
Menurut siaran pers Kementerian Kebudayaan yang dikonfirmasi di Jakarta pada Sabtu, Program Belajar Bersama Maestro mencakup kegiatan pembelajaran bersama Maestro Kriya Bambu Jatnika Nanggamiharja selama 30 hari di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Saung Ranggon karya lima peserta program Belajar Bersama Maestro (BBM) Kriya Bambu 2026 bersama Maestro Jatnika Nanggamiharja dipamerkan dalam "Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia."
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak varietas bambu.
"Lewat program Belajar Bersama Maestro, generasi muda dapat mempelajari cara melakukan perawatan, pengawetan, dan pengolahan bambu dari ahlinya langsung," kata Fadli, yang menyebut kriya bambu sebagai bagian dari ekspresi budaya dan penggerak ekonomi.
"Kita harapkan para maestro dan senior-senior, pengalamannya, pengetahuannya, wisdom-nya, perlu disalurkan, dibagi kepada generasi muda," katanya.
Ia mengatakan bahwa bambu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, yang menggunakan bambu untuk membangun rumah, membuat perkakas, menulis manuskrip, sampai membuat senjata untuk mendukung perjuangan.
Baca juga: Panggung Maestro digelar untuk dukung pelestarian kebudayaan
Maestro Jatnika Nanggamiharja mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara yang banyak menghasilkan produk kriya dari bambu.
"Indonesia adalah negara budaya dan ekonomi kreatif bambu terbanyak di dunia. Banyak karya yang dibuat dari bambu, mulai dari angklung, anyaman, peralatan, mebel, obat-obatan, makanan, hingga konstruksi," katanya.
Program Belajar Bersama Maestro merupakan program yang dijalankan oleh Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan.
Program ini memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar langsung bersama para maestro dengan menjalani residensi selama 30 hari di daerah tempat maestro berkarya.
Maestro yang dihadirkan dalam pelaksanaan program tahun ini meliputi Ahmad Tohari (sastra), Sulistyo Tirtokusumo (tari bedhaya), Jatnika Nanggamiharja (kriya bambu), Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (randai), I Gusti Nengah Nurata (lukis), serta Jaja Miharja dan Sanggar Sinar Jaya (lenong Betawi).
Baca juga: Komunitas tari Tulungagung gelar Nyantrik#9, hadirkan maestro tari Bali
Baca juga: Kementerian Kebudayaan siapkan bantuan buat para maestro seni dan budaya
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































