Moskow (ANTARA) - Prancis telah menyiapkan sebuah draf kesepakatan untuk mengakhiri konflik Israel-Lebanon yang akan mengharuskan Beirut mengakui Israel, lapor Axios yang mengutip tiga sumber yang mengetahui isu tersebut.
Sebelumnya Presiden Prancis Emmanuel Marcon menyatakan negaranya siap menjadi tuan rumah negosiasi penyelesaian konflik Lebanon. Pertemuan yang bertujuan untuk mencegah negara Timur Tengah itu jatuh ke dalam kekacauan, rencananya akan digelar di Paris.
Axios mengklarifikasi bahwa otoritas Israel dan AS sedang menganalisis draf usulan tersebut. Menurut publikasi, Israel dan Lebanon akan memulai negosiasi dengan dukungan AS dan Prancis.
Negosiasi akan dimulai di kalangan diplomatik senior, kemudian akan melibatkan "para pemimpin politik senior". Perwakilan Prancis ingin pembicaraan tersebut berlangsung di Paris.
Disebutkan pula bahwa deklarasi yang diusulkan akan mencakup pengakuan awal Lebanon terhadap Israel dan komitmen pemerintah Lebanon untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Israel.
Rencana itu juga mengharuskan Lebanon untuk menyatakan kesiapannya untuk menegosiasikan perjanjian non-agresi dengan Israel.
Kesepakatan tersebut akan ditandatangani dalam waktu dua bulan dan akan mengakhiri keadaan perang formal antar keduanya yang sudah berlangsung sejak 1948, menurut sumber yang dikutip portal tersebut.
Menurutnya, setelah perjanjian non-agresi ditandatangani, Israel akan menarik diri dari lima titik di Lebanon selatan yang telah dikuasainya sejak November 2024.
Israel dan Lebanon juga akan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006 dan perjanjian gencatan senjata 2024.
Tahap akhir dari rencana Prancis tersebut menyerukan penetapan batas antara Israel-Lebanon dan Lebanon-Suriah pada akhir 2026, kata Axios.
Portal tersebut mencatat bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun telah menunjuk satu tim untuk rencana negosiasi dengan Israel. Menurut berbagai sumber AS dan Israel, PM Israel Benjamin Netanyahu telah menugaskan mantan Kepala Perencanaan Strategis Ron Dermer untuk menangani urusan Lebanon selama konflik berlangsung.
Menurutnya, Dermer akan tetap berkomunikasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dan memimpin negosiasi apa pun dengan pemerintah Lebanon, jika pembicaraan langsung dimulai dalam beberapa pekan lagi, menurut sumber yang dikutip Axios.
Tidak diketahui siapa perwakilan AS yang akan berpartisipasi dalam negosiasi tersebut. Menurut sumber, salah satu tugas utama Dermer adalah menyetujui mediator dengan pemerintahan Trump.
Pada malam 2 Maret, Hizbullah melanjutkan operasi militer terhadap Israel menyusul pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Merespons itu, tentara Israel melancarkan serangan intensif ke pinggiran selatan Beirut dan puluhan kota serta desa di Lebanon selatan dan timur.
Menurut data resmi, 570 orang tewas dan 1.444 lainnya terluka serta sekitar 800.000 warga terpaksa mengungsi.
Sumber: SPutnik
Baca juga: WHO: Serangan Israel ke layanan kesehatan Lebanon tewaskan 14 petugas
Baca juga: Indonesia kutuk eskalasi serangan Zionis Israel ke Lebanon
Baca juga: Lebanon sebut korban tewas akibat serangan Israel capai 773 Jiwa
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































