Kota Tangerang (ANTARA) - Praktisi industri rumah tangga, Jali Wijaya mengatakan saat ini masyarakat mengalami perubahan perilaku dalam memilih material bangunan dari sebelumnya motif, warna dan tampilan menjadi mengutamakan aspek keamanan dan keselamatan khususnya dalam pemilihan keramik lantai.
Jali Wijaya di Kota Tangerang, Banten, Sabtu, mengatakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kecelakaan di rumah membuat konsumen semakin selektif dalam menentukan jenis keramik yang digunakan.
Area seperti kamar mandi, dapur, teras, hingga sekitar kolam renang menjadi lokasi yang paling banyak dipertimbangkan karena memiliki potensi licin saat terkena air.
"Lantai licin masih menjadi salah satu penyebab kecelakaan rumah tangga yang sering kali kurang mendapat perhatian. Kami melihat masyarakat kini mulai menyadari bahwa pemilihan keramik bukan hanya soal mempercantik rumah, tetapi juga bagaimana material tersebut mampu memberikan perlindungan bagi seluruh anggota keluarga," ujar Jali dari Platinum Ceramics Industry.
Menurut dia, tren tersebut menunjukkan adanya perubahan pola pikir konsumen. Jika sebelumnya faktor estetika menjadi prioritas utama, kini keamanan menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli keramik.
"Belakangan kami melihat masyarakat tidak lagi hanya mempertimbangkan desain saat memilih material bangunan, tetapi juga aspek keamanan, terutama untuk area yang sering terkena air. Konsumen ingin rumah yang indah sekaligus aman untuk anak-anak, lansia, maupun seluruh anggota keluarga," katanya.
Jali menjelaskan, meningkatnya perhatian terhadap keamanan juga didorong oleh semakin banyaknya informasi mengenai risiko terpeleset di lingkungan rumah. Cedera akibat lantai licin dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan tingkat keparahan yang beragam.
Baca juga: Semen Indonesia garap peluang renovasi dan hunian perkotaan
Baca juga: Semen Indonesia dorong inovasi bahan bangunan lewat kolaborasi global
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat permintaan terhadap keramik dengan daya cengkeram lebih baik terus meningkat. Konsumen kini mulai mencari produk yang mampu mengurangi risiko terpeleset tanpa harus mengorbankan kenyamanan maupun tampilan hunian.
Melihat perubahan kebutuhan tersebut, sejumlah perusahaan terus mengembangkan berbagai inovasi, salah satunya melalui teknologi anti-slip yang dirancang memberikan daya cengkeram lebih baik pada area basah, namun tetap nyaman digunakan dan mudah dibersihkan.
"Selama lebih dari lima dekade, kami terus mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat Indonesia. Inovasi yang kami hadirkan tidak hanya mengejar desain, tetapi juga menjawab kebutuhan akan hunian yang lebih aman. Kami meyakini rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu memberikan rasa aman bagi penghuninya," ungkap Jali.
Ia menambahkan tren mengutamakan aspek keselamatan diperkirakan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menciptakan rumah yang ramah bagi seluruh anggota keluarga.
"Ke depan, keamanan dinilai akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan material bangunan, berdampingan dengan kualitas, fungsi dan nilai estetika," katanya.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Muhadi mengatakan kondisi kegawatdaruratan pada lansia dapat dipicu oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung.
Ia mencontohkan seperti dalam satu lingkungan di rumah seperti pencahayaan yang kurang baik atau permukaan lantai licin sehingga lansia mudah terjatuh.
“Jadi seharusnya mereka (para pendamping) yang bersama hidup dengan lansia harus memperhatikan faktor-faktor eksternal dan internal. Nah kita perbaiki faktor-faktor eksternal, internalnya,” tutur dia.
Baca juga: SIG perkuat kolaborasi buka peluang bisnis infrastruktur di 2026
Baca juga: Produsen bahan bangunan tetap optimistis menghadapi 2026
Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































