Sana'a (ANTARA) - Kelompok Houthi mengklaim bahwa sebanyak 8 kapal tanker minyak milik Arab Saudi mengubah haluan di tengah ketegangan di Laut Merah.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial X, juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan bahwa kapal-kapal tanker tersebut dialihkan menuju Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) "sebagai bagian dari strategi 'blokade dibalas blokade'.
Tindakan itu dia kaitkan dengan penegakan blokade angkatan laut yang makin intensif oleh kelompok tersebut terhadap kapal-kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Sarea menyampaikan bahwa Houthi akan terus menegakkan blokade terhadap Arab Saudi dan memperingatkan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi akan tetap menjadi sasaran serangan "di mana pun memungkinkan."
Sarea menambahkan bahwa kelompok tersebut tidak akan "menyia-nyiakan upaya apa pun" untuk mengakhiri apa yang disebutnya sebagai blokade terhadap wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Houthi dan "memulihkan hak-hak rakyat Yaman."
Klaim terbaru Houthi itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan secara cepat antara kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi.
Pada 20 Juli, Houthi mengumumkan apa yang mereka gambarkan sebagai larangan maritim terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah, dengan mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan tanggapan atas dugaan blokade Arab Saudi terhadap wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.
Sejak saat itu, kelompok tersebut mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah serta infrastruktur energi.
Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi kembali melancarkan serangan udara yang diumumkan secara terbuka terhadap apa yang mereka sebut sebagai target-target militer utama milik Houthi di Yaman, yang menandai serangan pertama Saudi yang diakui secara resmi terhadap kelompok tersebut sejak 2022.
Kembalinya permusuhan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, sehingga meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi militer yang lebih luas setelah bertahun-tahun Yaman relatif tenang.
Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sana'a dan sebagian besar wilayah utara Yaman, yang mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.
Pewarta: Xinhua
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































