Potong lopis. simbol perekat silaturahmi warga Krapyak, Pekalongan 

1 month ago 11
Lopis bukan sekadar makanan tradisional. Panganan ini menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya dalam satu sajian yang tampak sederhana, namun sarat makna.

Pekalongan (ANTARA) - Tradisi tahunan Festival Lopis Raksasa kembali digelar di kawasan Krapyak Kidul Gang 8 (Gang Sembawan), Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, sebagai bagian dari kemeriahan Pekan Syawalan 2026.

Sejak H+2 Idulfitri, warga setempat telah mulai menyiapkan lopis berukuran raksasa tersebut. Proses pembuatannya tidak main-main karena lebih dari lima kuintal beras ketan digunakan untuk menghasilkan satu lopis raksasa yang menjadi ikon perayaan ini.

Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Lebaran seolah belum benar-benar usai pada dua hari pertama Idul Fitri. Masih ada satu fase perayaan yang justru paling dinanti masyarakat, yakni tradisi Syawalan yang tahun ini puncaknya jatuh pada Sabtu (28/3).

Pada momen inilah warga Kelurahan Krapyak melestarikan tradisi turun-temurun membuat lopis, panganan khas berbahan dasar beras ketan yang sederhana, tapi sarat makna kebersamaan dan rasa syukur.

Sejak hari kedua Lebaran 2026, wilayah Kelurahan Krapyak mulai dipenuhi para pedagang lopis. Dari jalan protokol hingga gang-gang permukiman, aroma ketan kukus berpadu dengan kelapa parut menjadi penanda khas bahwa suasana Syawalan tengah berlangsung.

Kehadiran lopis pun bukan sekadar jualan musiman. Ia menjadi penanda waktu sosial, isyarat halus bahwa masa libur Lebaran perlahan menuju akhir, sementara masyarakat bersiap kembali pada ritme keseharian.

Di balik tampilannya yang sederhana, lopis menyimpan filosofi yang mendalam. Dalam tradisi Jawa pesisir, termasuk masyarakat Pekalongan, lopis dimaknai sebagai lepat atau pengakuan kesalahan. Panganan ini menjelma menjadi simbol budaya yang hidup, menyatukan rasa, ingatan, dan makna kebersamaan sekaligus mempererat silaturahmi.

Bentuknya yang padat dan lengket merepresentasikan eratnya tali persaudaraan setelah saling memaafkan. Sementara balutan daun pisang yang membungkus ketan mencerminkan harapan agar manusia mampu menjaga laku hidupnya tetap rapi, tertata, dan bernilai.

Lopis dibuat dari beras ketan yang, setelah direbus, menjadi lengket dan menyatu. Ini melambangkan persatuan atau kraket (erat). Warnanya yang putih dimaknai sebagai simbol kebersihan dan kesucian, selaras dengan semangat kembali fitri dalam suasana Lebaran.

Bungkus daun pisang yang digunakan juga memiliki makna simbolik, sebagai perlambang Islam dan kemakmuran, bahwa ajaran Islam senantiasa menumbuhkan kebaikan serta menjaga karunia Tuhan dalam kehidupan manusia. Karena itu, daun pisang yang dipilih tidak boleh terlalu tua maupun terlalu muda, sebab keduanya akan memengaruhi cita rasa lopis.

Ikatan pembungkus lopis menggunakan serat pelepah pisang yang melambangkan kekuatan. Maknanya, kondisi yang telah dicapai setelah kembali fitri perlu dijaga agar tidak luntur, bahkan diharapkan terus bertambah dan meningkat dalam kebaikan.

Pengikat tersebut sekaligus menjadi simbol keterikatan manusia dalam menjalin silaturahmi antar-Muslim. Pada hari ketujuh Syawal, lopis ini kemudian dibagikan kepada warga dan para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi pemotongan panganan tradisional tersebut.

Baca juga: Nasi Megono dan Lopis Krapyak khas Pekalongan jadi WBTb nasional

Baca juga: Pekalongan padukan festival lopis dan balon jadi sarana silaturahim

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |