PKM Usakti hadirkan Aplikasi SI-KASEP kendalikan TBC di Badui ‎

1 week ago 5
pihaknya menyadari intervensi kesehatan di masyarakat adat membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Lebak (ANTARA) - ‎Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (Usakti ) Jakarta menghadirkan inovasi digital SI-KASEP (Sistem Informasi – Kenali, Amati, Skrining, Edukasi, dan Pengobatan), guna meningkatkan deteksi dini dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) bagi masyarakat Badui di Kabupaten Lebak, Banten.

‎Ketua Pelaksana PKM Universitas Trisakti, dr Purnamawati Tjhin, M.Pd.Ked dalam keterangan di Lebak, Jumat, menjelaskan pengembangan SI-KASEP tidak semata-mata menghadirkan teknologi digital, tetapi juga mengintegrasikan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan kearifan lokal.

‎Ia mengatakan, pihaknya menyadari intervensi kesehatan di masyarakat adat membutuhkan pendekatan yang berbeda.

‎Teknologi harus hadir sebagai alat bantu yang sederhana, mudah dipahami, dan tetap menghormati nilai serta kebiasaan masyarakat setempat.

‎Karena itu, SI-KASEP dirancang tidak hanya sebagai aplikasi, tetapi sebagai bagian dari proses pemberdayaan masyarakat dan kader kesehatan," kata Purnamawati.

‎Aplikasi SI-KASEP merupakan ‎inovasi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan pengendalian TBC di wilayah masyarakat adat, khususnya terkait keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan secara berkala, deteksi dini, serta pemantauan pengobatan.

‎Melalui SI-KASEP, kata dia, masyarakat dan kader kesehatan didorong untuk lebih aktif mengenali gejala TBC, melakukan pemantauan kondisi kesehatan, mendapatkan skrining awal, memperoleh edukasi yang mudah dipahami, serta mendapatkan pendampingan dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.

‎Lima pilar SI-KASEP yang dikembangkan dengan pendekatan tahapan yang saling terintegrasi, yaitu Kenali, Amati, Skrining, Edukasi, dan Pengobatan.

‎Kenali merupakan tahap awal untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda dan gejala TBC.

‎Selanjutnya, tahapan Edukasi diberikan dengan bahasa yang sederhana agar masyarakat dapat memahami kapan seseorang perlu dicurigai mengalami TBC dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

‎Tahapan Amati, masyarakat didorong untuk melakukan pemantauan kondisi kesehatan diri sendiri maupun anggota keluarga secara rutin.

‎Sebab, informasi hasil pemantauan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan skrining, karena bagian penting dalam upaya menemukan kasus TBC sedini mungkin.

‎Proses skrining dapat dilakukan dengan dukungan aplikasi dan pendampingan kader maupun tenaga kesehatan sehingga masyarakat yang memiliki gejala atau faktor risiko dapat diarahkan untuk memperoleh pemeriksaan lebih lanjut pada fasilitas pelayanan kesehatan.

‎Pada tahap Edukasi, SI-KASEP menyediakan informasi kesehatan mengenai TBC dengan media yang lebih menarik dan mudah dipahami, termasuk materi berbasis gambar dan video.

‎Edukasi juga menekankan pentingnya pencegahan penularan serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan.

‎Sementara itu, tahap Pengobatan diarahkan untuk mendukung kepatuhan pasien yang telah mendapatkan diagnosis TBC agar menjalani terapi sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah terjadinya penularan dan munculnya resistensi obat.

‎Purnamawati mengatakan ,tim PKM Usakti tidak hanya memperkenalkan aplikasi kepada masyarakat, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada kader kesehatan.

‎Kader memiliki peran penting sebagai penghubung antara masyarakat, program kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

‎Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan program karena kader kesehatan merupakan bagian dari masyarakat yang memahami kondisi sosial dan budaya setempat.

‎“Kami ingin kader tidak hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi juga menjadi penggerak masyarakat. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan dapat benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari sistem pemantauan kesehatan masyarakat," tambah dr. Purnamawati.

‎Ia menyebutkan, kehadiran inovasi SI-KASEP mendapat respons positif dari masyarakat, kader kesehatan, serta perangkat Desa Adat Kanekes.

‎Pendekatan digital yang dipadukan dengan edukasi langsung dinilai dapat membantu menyederhanakan informasi mengenai TBC dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini.

‎Salah seorang perwakilan masyarakat adat menyampaikan apresiasinya terhadap program yang dilaksanakan oleh tim PKM Usakti.

‎“Program ini baik karena membantu masyarakat memahami penyakit TBC dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan kondisi warga. Jika gejalanya dapat dikenali lebih cepat, masyarakat juga dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan,” ujarnya.

‎Program SI-KASEP bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang dilaksanakan dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Trisakti serta melalui skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DIKTI/Kemdiktisaintek).

‎Melalui program tersebut, Usakti tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga berupaya menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

‎Ke depan, SI-KASEP diharapkan dapat terus dikembangkan dan diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan setempat, termasuk koordinasi dengan puskesmas dan kader kesehatan.

‎Pengembangan berkelanjutan juga diharapkan dapat menjadikan SI-KASEP sebagai salah satu model digitalisasi pengendalian TBC berbasis masyarakat adat yang dapat direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik serupa.

‎"Kami berharap SI-KASEP tidak berhenti sebagai sebuah aplikasi atau kegiatan pengabdian dalam satu periode. Kami ingin inovasi ini dapat terus digunakan, dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pada akhirnya, teknologi harus mampu mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk masyarakat yang tinggal di wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial budaya yang khusus," pungkas dr. Purnamawati.

‎Melalui sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat adat, kader kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan, program ini diharapkan dapat memperkuat upaya penemuan kasus secara dini, pencegahan penularan, kepatuhan pengobatan, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat, sehingga cita-cita mewujudkan masyarakat Badui yang lebih sehat dan bebas TBC dapat semakin dekat," kata dr Purnamawati.

Baca juga: Ika-Usakti gelar Rakernas terapkan Iptek, seni, budaya untuk peradaban

Baca juga: Wamendagri: Penanggulangan TBC dalam perencanaan dan anggaran daerah

Pewarta: Mansyur suryana
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |