Perusahaan minyak ingatkan AS akan dampak krisis Selat Hormuz

2 hours ago 3

Washington (ANTARA) - Para eksekutif perusahaan minyak mengingatkan Gedung Putih bahwa penutupan Selat Hormuz, yang berdampak pada penghentian pengiriman, bisa semakin membuat harga minyak global semakin naik, ungkap laporan The Wall Street Journal, Minggu (15/3).

CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, dan CEO ConocoPhillips Ryan Lance mengatakan gangguan lalu lintas pengiriman akan terus menciptakan ketidakstabilan di pasar energi global.

Gedung Putih sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk menurunkan harga minyak dunia, termasuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia, melepas sscara besar-besaran cadangan energi darurat, menghapus batasan pengiriman minyak mentah antar-pelabuhan Amerika, serta meningkatkan pengiriman minyak Venezuela, kata seorang pejabat Gedung Putih.

Selama dua pekan terakhir, para pejabat Amerika telah berdiskusi dengan Exxon dan ConocoPhillips mengenai investasi miliaran dolar di sektor minyak Venezuela, kata surat kabar itu.

Namun demikian, banyak pihak di industri minyak khawatir bahwa langkah tersebut tidak dapat membantu menyelesaikan krisis secara signifikan, dengan alasan bahwa satu-satunya solusi nyata adalah membuka kembali Selat Hormuz.

Departemen Perang AS telah memberi tahu Gedung Putih bahwa ada opsi untuk membuka kembali jalur air tersebut dan Pemerintah Amerika Serikat menginginkan hal itu terjadi dalam beberapa pekan ke depan, kata sebuah sumber.

Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran membalas serangan tersebut dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik AS di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar Iran telah menyebabkan penghentian lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Krisis itu berpengaruh terhadap ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Sementara itu, dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, Kamis (12/3), Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai pengungkit dalam konflik dengan Amerika dan Israel.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: China jawab Trump soal bantu pulihkan lalu lintas di Selat Hormuz

Baca juga: Ketika Selat Hormuz memanas, dunia bersiap hemat energi

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |