Jakara (ANTARA) - Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung-Regenic Stem Cell, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed., menilai perkembangan cell therapy atau terapi sel dan precision medicine perlu diikuti dengan kesiapan ekosistem agar inovasi dapat diterapkan secara aman dan berkelanjutan.
“Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama dengan clinical evidence, governance, dan kesiapan ekosistem sehingga inovasi dapat diterapkan secara aman, efektif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia,” ujar Sandy, dalam keterangan pers Kalbe yang diterima, Sabtu.
Dalam hal itu, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menyelenggarakan Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 bertema “Where Science Meets Purpose, Growth and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy” di The St. Regis Jakarta.
Forum ilmiah yang menghadirkan lebih dari 200 dokter, peneliti, akademisi, perwakilan pemerintah, serta pemangku kepentingan kesehatan ini membahas perkembangan terkini precision medicine, immune cell therapy, dan gene editing, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, klinisi, regulator, dan industri untuk mendorong penerapan inovasi terapi berbasis penelitian di Indonesia.
Baca juga: Kemenkes dorong pengembangan terapi sel punca yang aman
“Semangat yang diwariskan Dr. Boenjamin Setiawan adalah bagaimana ilmu pengetahuan dan inovasi harus memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu memberikan manfaat dan harapan bagi kehidupan manusia. Hari ini, ketika ilmu kedokteran berkembang semakin cepat menuju terapi yang lebih presisi dan personal, semangat tersebut menjadi semakin relevan,” ujar Presiden Direktur PT Kalbe FarmaTbk, Irawati Setiady.
Perkembangan cell and gene therapy secara global juga bergerak semakin cepat. Dalam satu dekade terakhir, hampir 50 terapi sel dan gen telah memperoleh persetujuan U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Teknologi gene editing seperti CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats)/Cas9 juga telah berkembang dari penelitian dasar menjadi teknologi yang digunakan dalam terapi yang telah memperoleh persetujuan regulator.
Baca juga: RSCM perkuat perkembangan layanan sel punca untuk terapi regeneratif
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya potensi terapi berbasis sel dan gen dalam menghadirkan pendekatan baru bagi penanganan berbagai penyakit.
Secara global, penyakit kanker juga diproyeksikan semakin besar. World Health Organization (WHO) dalam Global Status Report on Cancer 2026 memperkirakan jumlah kasus baru kanker dunia dapat mencapai hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050.
Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, serta pengembangan pendekatan terapi yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik masing-masing pasien (personalized medicine).
Baca juga: BPOM kuatkan hilirisasi siapkan RI jadi pusat ATMP Asia Pasifik
Pengembangan precision medicine juga sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional. Pemerintah Indonesia melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) terus memperkuat pemanfaatan data genomik sebagai salah satu fondasi pengembangan kedokteran presisi.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami karakteristik biologis dan genetik penyakit secara lebih mendalam sehingga pencegahan, diagnosis, maupun pilihan terapi dapat semakin tepat dan personal.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D mengatakan bahwa Indonesia secara proaktif menyambut babak baru pengobatan presisi dan terapi sel (ATMP) melalui kerangka regulasi baru.
Baca juga: BPOM dan masa depan terapi gen
Melalui Peraturan BPOM No. 8 Tahun 2025, lanjut Taruna, BPOM berkomitmen untuk mereformasi proses regulasi dan mempercepat jalur perizinan guna mendukung kemajuan riset kedokteran masa depan seperti terapi sel punca, RNA, dan gen.
“BPOM memastikan bahwa percepatan regulasi ini tetap berpijak pada prinsip tanpa kompromi terhadap aspek keamanan, kualitas, dan efikasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Taruna.
Kolaborasi antara akademisi, klinisi, pemerintah, regulator, industri, dan fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat membantu mempercepat transformasi inovasi ilmiah menjadi solusi kesehatan yang aman, berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi pasien Indonesia.
Baca juga: Studi: Sel kanker dapat rusak DNA sendiri, berpotensi jadi cara terapi
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































