Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menyampaikan kecerdasan buatan (AI) menjadi alat bagi praktisi hubungan masyarakat (public relations/PR) dalam membantu proses verifikasi informasi hingga percepatan pencarian data, namun menekankan keputusan tetap berada di manusia.
Sekretaris Umum Perhumas Benny Siga Butarbutar menyampaikan AI pada dasarnya merupakan produk pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan komunikasi, namun tetap tidak dapat menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan.
“Selaku praktisi PR, AI juga adalah produk knowledge yang selalu dibutuhkan dalam membantu melakukan proses verifikasi, proses percepatan, pencarian data, bahkan termasuk proses untuk memastikan itu fakta atau tidak,” ujarnya dalam acara INFOBRAND Forum 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, globalisasi menciptakan hubungan yang semakin rumit, serta meningkatkan ketidakpastian (uncertainty), yang dalam kondisi ini kecerdasan buatan dapat membantu proses analisis dan prediksi.
Baca juga: Khofifah sebut peran humas strategis jahit persatuan Indonesia
Baca juga: Antaranews raih Anugerah Perhumas 2025 bertepatan HUT ke-88 ANTARA
“AI bukan saja jadi alat bantu, meskipun kita perlu, tapi dia tetap tidak menjadi penentu. Penentunya itu adalah manusia, praktisi PR sendiri bahkan wartawan,” kata Benny yang juga menjabat Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.
Ia menjelaskan bahwa dalam situasi krisis, AI memiliki keterbatasan karena tidak mampu sepenuhnya membaca kompleksitas emosi publik yang sering kali sangat mendalam dan dipengaruhi banyak faktor.
Meski demikian, pemanfaatan AI tetap penting karena dapat mempercepat proses pengolahan data dan membantu pemimpin dalam mengambil keputusan secara lebih cepat dan berbasis informasi.
“Ketika pada saat krisis AI tidak banyak membantu krisis, tapi membantu dalam hal memprediksi dan melakukan mitigasi. Tapi begitu kejadian, lagi-lagi AI tidak mampu membaca tentang kompleksitas emosi publik yang begitu dalam, rumit, tajam dan penuh dengan berbagai aspeknya,” katanya.
Benny juga menekankan pentingnya kemampuan membangun prompting dan memanfaatkan AI untuk memprediksi dinamika komunikasi ke depan.
Bagi pemimpin komunikasi, termasuk pejabat publik, AI menurutnya harus diposisikan sebagai alat untuk memperdalam makna dan analisis.
Selain itu, Benny menyoroti pentingnya membangun kepercayaan (trust) dalam komunikasi publik, mengingat kepercayaan tidak hanya dibangun melalui keunggulan produk atau layanan, tetapi juga melalui kepedulian yang ditunjukkan organisasi kepada publik.
Baca juga: Perhumas gelar Konvensi Humas Indonesia 2025 di Surabaya akhir tahun
Baca juga: Perhumas membarui kode etik terkait AI
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































