PERDAMI: Deteksi dini mata juling cegah risiko mata malas pada anak

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jaya menggarisbawahi perlunya deteksi dini untuk mengidentifikasi dan menindaklanjuti mata juling (strabismus) sebagai upaya mencegah ambliopia atau mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak, guna memastikan kualitas hidup.

“Di lapangan, masih ada anak dengan mata juling yang terlambat memperoleh pemeriksaan karena kondisi tersebut kerap dianggap hanya persoalan penampilan atau dapat ditunda. Padahal, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko terjadinya ambliopia atau mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak," kata Ketua PERDAMI Jaya Dr. Julie Dewi Barliana.

Julie mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.

"Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa," katanya.

Oleh karena itu, penanganan yang tepat diharapkan tidak hanya membantu mengoptimalkan fungsi penglihatan, tetapi juga mendukung kualitas hidup anak melalui penampilan mata yang lebih baik sehingga anak dapat tumbuh dan beraktivitas dengan lebih percaya diri.

Pihaknya pun mengapresiasi kehadiran Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC Menteng sebagai langkah untuk memperkuat edukasi, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap penanganan strabismus yang tepat.

Baca juga: Perdami: Fase pre-miopia waktu terbaik lakukan intervensi pada anak

Senada, Wakil Ketua Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society (INAPOSS) Dr. Lely Retno Wulandari mengatakan, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan, terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.

"Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia," katanya.

Juling yang muncul mendadak, katanya, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa.

Bertepatan dengan Hari Strabismus Sedunia yang diperingati setiap 10 Agustus, RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling, layanan khusus untuk penanganan strabismus atau mata juling bagi pasien anak dan dewasa.

Didukung Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC, layanan ini mencakup pemeriksaan diagnostik, koreksi kelainan refraksi, terapi ambliopia dan latihan penglihatan, hingga operasi otot mata berdasarkan diagnosis dan kebutuhan klinis pasien.

Direktur Utama RS Mata JEC Menteng Dr. Referano Agustiawan mengatakan, selain memengaruhi fungsi penglihatan, strabismus juga dapat berdampak secara psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan, sedangkan pada orang dewasa dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, serta peluang dalam lingkungan profesional.

"Melalui Pusat Operasi Mata Juling, pasien anak maupun dewasa dapat memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari terapi nonbedah hingga operasi berdasarkan indikasi medis," kata Referano.

Baca juga: Dokter ingatkan tren katarak kini muncul di usia muda

Baca juga: PERDAMI bahas katarak di pertemuan Ahli Kesehatan Mata Asia

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |