Penopang daya juang perempuan migran asal Pantura di Negeri Sakura

48 minutes ago 1
Ia menilai banyak calon pekerja migran belum memahami, bahwa BPJS Ketenagakerjaan adalah perlindungan jangka panjang yang sangat vital.

Cirebon (ANTARA) - Denisa Herlina memejamkan mata sejenak, tangan kirinya meremas ujung kerudung, sementara bahunya sesekali naik turun mengikuti napas panjang yang sebelumnya ditahan.

Tatapannya tenang, namun rasa lelah tercetak samar di balik sorot matanya. Ia menengadahkan kepala, memilah ingatan mana yang sanggup diutarakan.

Di hadapan layar laptop yang memantulkan cahaya pucat dari kamar sewaannya di Prefektur Okayama, Jepang, Denisa mulai menceritakan pengalamannya saat berhasil menjejakkan kaki di Negeri Sakura.

“Aku dulu sampai bingung, kerja apa yang cocok buat aku,” katanya kepada ANTARA saat terhubung secara daring pada medio November 2025.

Perempuan berusia 26 tahun asal Cirebon, Jawa Barat, itu telah bekerja hampir setahun lebih di Jepang sebagai pekerja migran.

Perjalanan menuju titik tersebut didasari oleh keputusan spontan, mencari kesempatan untuk mengurangi tekanan ekonomi yang sudah menumpuk sejak ia menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kala itu, Denisa tak langsung kuliah. Mulanya, ia ingin mengumpulkan uang untuk masuk ke perguruan tinggi, tetapi penghasilannya selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari saat bekerja di sebuah koperasi.

Kendati demikian, ia berhasil kuliah di jurusan hubungan internasional di tahun 2017 dan lulus pada 2021. Namun gelar tersebut tidak serta merta membuka akses masuk ke dunia kerja.

Selama dua tahun, Denisa mengaku selalu mengirimkan 10 hingga 20 lamaran setiap hari, tetapi tak pernah mendapatkan panggilan wawancara.

Ia justru menemukan banyak ketentuan lowongan kerja yang tidak logis seperti adanya batas usia, syarat penampilan fisik, hingga permintaan pengalaman dua tahun untuk posisi entry level.

“Aku sampai berpikir, memang orang umur 25 tahun ke atas tidak boleh kerja?” keluhnya.

Ia semakin dibuat pusing karena tuntutan untuk membantu ekonomi keluarga, sehingga Denisa merasa waktunya kian menyempit.

Ibunya sempat berniat merantau ke Malaysia guna menafkahi keluarga, membuatnya gelisah bukan main. Keputusan tersebut langsung ditentangnya.

Adu mulut sempat terjadi, sampai akhirnya ia membulatkan tekad berangkat ke Jepang.

Baca juga: KemenP2MI dorong pembentukan pusat vokasi migran di Cirebon

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |