Pengembangan Museum Song Terus diperlukan agar menjadi pusat edukasi

3 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya pengembangan Museum Song Terus di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, sebagai pusat edukasi dan kebudayaan yang mampu menghadirkan narasi utuh perjalanan peradaban manusia di Nusantara.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu, Fadli Zon menyatakan kawasan Song Terus menyimpan bukti penting kesinambungan kehidupan manusia, dengan temuan budaya yang diperkirakan mencapai usia hingga 300.000 tahun, serta temuan manusia prasejarah seperti Mbah Sayem yang berusia sekitar 8.500 tahun.

"Di museum ini kita bisa menyaksikan satu rangkaian perjalanan peradaban manusia di Pacitan, dari awal hingga manusia modern seperti sekarang,” ujar Fadli Zon.

Baca juga: Nadiem resmikan Museum Song Terus di Pacitan

Penelitian di kawasan itu telah berlangsung sejak lama dan melibatkan berbagai peneliti, mulai dari masa kolonial seperti Von Koenigswald hingga arkeolog Indonesia, termasuk R.P. Suyono. Seluruh hasil penelitian tersebut kini dihadirkan kepada publik melalui Museum Song Terus dalam bentuk narasi edukatif yang mudah dipahami.

Menbud menilai bahwa penguatan fungsi museum perlu terus dilakukan melalui penyediaan fasilitas yang mendukung pengalaman belajar masyarakat, termasuk auditorium, pemutaran film tiga dimensi (3D), serta ruang pertunjukan seni budaya.

Museum Song Terus dibangun untuk mengangkat hasil penelitian arkeologi di kawasan karst Pacitan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Situs itu dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam kajian prasejarah di Indonesia, dengan temuan berupa alat batu, sisa fauna, serta bukti aktivitas manusia yang menunjukkan keberlanjutan hunian dalam jangka waktu panjang.

Kawasan itu juga merupakan bagian dari bentang alam karst Gunung Sewu yang memiliki nilai penting secara ilmiah dan budaya.​​​​​​​

Menbud Fadli Zon berharap museum itu dapat menjadi salah satu kantong budaya yang aktif, tidak hanya dalam pelestarian, tetapi, juga dalam pemanfaatan warisan budaya sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat luas.

Baca juga: Menbud minta museum digitalisasi koleksi untuk memikat generasi muda

Baca juga: Jejak akulturasi Tiongkok-Nusantara pada selembar kain

Baca juga: Menbud tinjau koleksi hingga potensi pengembangan Museum Mpu Tantular

Baca juga: Kemenbud merevitalisasi 152 cagar budaya dan museum

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |