Jakarta (ANTARA) - Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) memandang bahwa media harus berperan dalam memberikan informasi yang berimbang dan tidak menyudutkan korban kekerasan.
"Peran media harusnya mampu memberikan informasi yang berimbang dan tidak melakukan kekerasan terhadap korban atau reviktimisasi korban. Pemberitaan yang mengarahkan adanya relasi khusus dikhawatirkan mengaburkan fakta kekerasan yang terjadi yang akhirnya menganggap 'normal' terjadinya kekerasan pada relasi pacaran," kata Anggota Komnas Perempuan Devi Rahayu saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Hal itu dikatakannya menanggapi kasus penganiayaan terhadap seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.
Berbagai platform media sosial menyampaikan kedua pihak memiliki kedekatan secara khusus, sehingga masyarakat menganggap korban dan pelaku berpacaran.
"Saat ini masyarakat lebih berfokus pada motif asmara dengan narasi cinta yang ditolak, bukan pada kasus kekerasannya," ujar Devi Rahayu.
Padahal dalam relasi personal, perempuan berhak mendapatkan ruang aman yang terbebas dari kekerasan.
Selain itu, menurut dia, menyoroti hubungan personal antara pelaku dan korban akan menjadikan fokus terhadap kekerasan menjadi kabur. Padahal kekerasan yang terjadi merupakan bentuk tindak kriminal ekstrem.
Sebelumnya FAP (23), mahasiswi UIN Suska Riau menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh teman kuliahnya, RM (22) pada Kamis (26/2).
Penganiayaan terjadi di kampus UIN Suska Riau ketika korban hendak menjalani sidang seminar proposal. Penganiayaan berat ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi.
Polda Riau telah menetapkan RM sebagai tersangka. Sementara korban saat ini masih dalam proses pemulihan pascaoperasi besar.
Baca juga: Anggota DPR desak evaluasi keamanan kampus UIN Suska Riau
Baca juga: Kemenkes beri konseling respons cepat isu pembacokan UIN Suska Riau
Baca juga: Komnas: Penganiayaan mahasiswi UIN Suska terkategori femisida
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Citro Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































