Peneliti ungkap temuan isu lingkungan di perbatasan RI-Timor Leste

3 hours ago 2
Masalah ketersediaan air untuk kebutuhan harian dan irigasi di perbatasan sangat mendesak. Temuan kami menunjukkan adanya perubahan lanskap akibat aliran air yang memengaruhi batas fisik kedua negara

Kupang (ANTARA) - Tim Peneliti Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyerahkan hasil riset mereka kepada Rektor Undana Prof Jefri Bale, yang akan dijadikan sebagai rujukan kebijakan RI-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) terkait lingkungan.

Dekan Fakultas Pertanian Undana sekaligus peneliti senior DAS Perbatasan Dr. Muhammad di Kupang, Selasa, mengatakan hasil riset itu berupa Transboundary Diagnostic Analysis (TDA) Daerah Aliran Sungai (DAS) Perbatasan RI-RDTL.

"Riset lintas negara ini menjadi dokumen ilmiah krusial dalam memitigasi isu lingkungan dan kedaulatan air di wilayah tapal batas," katanya.

Dia menjelaskan penelitian kolaboratif yang telah berjalan sejak 2008 ini memotret kondisi aktual sumber daya air yang berdampak langsung pada hubungan diplomatik serta kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

Baca juga: Indonesia-Timor Leste berencana memperbarui perjanjian lintas batas

Dari hasil riset itu, kata dia, terdapat temuan mengejutkan mengenai pergeseran fisik di lapangan, dimana dinamika sistem irigasi di daerah perbatasan disinyalir memicu hilangnya tanda-tanda tapal batas antarnegara, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memicu konflik kewilayahan.

“Masalah ketersediaan air untuk kebutuhan harian dan irigasi di perbatasan sangat mendesak. Temuan kami menunjukkan adanya perubahan lanskap akibat aliran air yang memengaruhi batas fisik kedua negara," ujar dia.

Karena itu, menurut dia, pentingnya TDA sebagai rujukan kebijakan pengelolaan DAS berkelanjutan di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Selain isu lingkungan, lanjut dia, riset ini menyoroti ketergantungan masyarakat NTT di wilayah DAS perbatasan terhadap sumber air lintas wilayah untuk ketahanan pangan.

Kondisi geografis yang menantang, kata dia, menuntut adanya fokus khusus dari pemerintah dalam memberikan solusi teknis maupun kebijakan ekonomi di wilayah tersebut.

Tim peneliti yang telah menggarap riset ini secara mandiri selama belasan tahun kini tengah menyiapkan kunjungan lanjutan ke Timor Leste untuk sinkronisasi data final.

Baca juga: BNPP: Segmen batas RI--Timor Leste masih perlu disepakati

"Dukungan penuh dari pihak universitas sangat diharapkan guna menjamin kelancaran misi riset internasional ini," ucapnya.

Rektor Undana Prof. Jefri S. Bale menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi kebutuhan riset kolaboratif itu. Ia memastikan Undana akan mengawal proses penelitian agar memberikan dampak langsung bagi masyarakat perbatasan.

“Undana sangat mendukung penelitian bersama ini. Keterlibatan langsung peneliti kita memastikan pendekatan yang digunakan sesuai dengan ritme dan kebutuhan lokal di NTT,” tutur Prof. Jefri.

Ke depan riset yang melibatkan mitra internasional seperti Charles Darwin University (Australia) dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e itu, kata dia,i diproyeksikan berujung pada pembentukan Konsorsium Tiga Negara (Indonesia, Timor Leste, dan Australia).

"Kerja sama ini diharapkan mampu menghasilkan jurnal ilmiah bereputasi serta rekomendasi kebijakan strategis bagi pemerintah RI dan RDTL dalam menjaga stabilitas dan kelestarian lingkungan di perbatasan," ucapnya.

Baca juga: Indonesia siap dukung penguatan SDM koperasi Timor Leste

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |