Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa potensi terjadinya tanah longsor di tanah air harus menjadi perhatian mengingat banyaknya daerah yang mengalami bencana longsor.
"Dari beberapa klaster bencana yang sering terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi basah dan kami punya data bahwa beberapa tahun terakhir, di samping banjir dan banjir bandang, ternyata tanah longsor ini sekarang menjadi bencana yang harus kita perhatikan secara lebih seksama," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto dalam rapat kerja Menteri Sosial, Kepala BNPB, Kepala BPKH, dan Baznas dengan Komisi VIII DPR RI, di Jakarta, Selasa.
Berdasarkan data BNPB pada 2025, terjadi 2009 bencana hidrometeorologi basah yang menelan 1.353 orang meninggal dunia dan 182 orang hilang.
Dari jumlah tersebut, 330 kali di antaranya adalah bencana tanah longsor.
"Longsor ini juga korbannya cukup besar, yaitu 237 orang meninggal dunia dan 31 hilang. Sehingga ini juga kami perlu sampaikan bahwa ke depan mungkin menghadapi bencana longsor ini juga menjadi prioritas yang harus kita perhatikan bersama," kata Suharyanto.
Sebelumnya, pada 24 Januari 2026, bencana tanah longsor besar terjadi di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, yang dipicu hujan deras yang terus menerus.
Sedikitnya 80 orang meninggal dunia dan 53 rumah mengalami rusak berat.
Tim SAR gabungan saat ini terus mencari korban yang masih hilang.
Baca juga: Nagari Bungo Tanjuang optimistis huntara BNPB siap sebelum Ramadhan
Baca juga: TNI-BNPB kebut pengerjaan huntara bagi korban tanah bergerak Sumbar
Baca juga: BNPB intensifkan OMC dan percepat pembangunan huntara di Sumatra
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































