Penanganan obesitas tidak cukup hanya kurangi nasi

1 week ago 23

Jakarta (ANTARA) - Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK mengatakan penanganan obesitas tidak cukup dilakukan dengan sekadar mengurangi konsumsi nasi karena penyebab dan kebiasaan makan setiap orang berbeda.

“Obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan, ‘oh kurangin deh nasinya, jangan makan malam, makan sekali sehari, jangan makan nasi’. Itu enggak bisa,” kata Erwin dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan sebagian orang dengan obesitas memiliki kebiasaan makan dalam porsi besar, sementara sebagian lainnya tidak makan terlalu banyak dalam waktu makan utama tetapi sering mengonsumsi makanan ringan.

Baca juga: Pendekatan medis semaglutide dinilai bantu kendalikan obesitas

“Ada orang yang makannya enggak banyak. Ada yang makannya cuma dua kali sehari, satu kali sehari, tapi nyomotnya banyak. Ada orang yang makannya ‘Portugal’, porsinya gede,” ujarnya.

Karena itu, ia mengatakan penanganan obesitas perlu disesuaikan dengan pola makan, gaya hidup, serta faktor yang mendorong seseorang untuk makan.

Menurut Erwin, seseorang tidak selalu makan hanya karena merasa lapar. Kebiasaan makan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu hingga kondisi emosional, termasuk stres.

Baca juga: Rekomendasi latihan untuk turunkan berat badan bagi penderita diabetes

Ia mencontohkan seseorang yang sejak kecil terbiasa mendapatkan makanan manis sebagai bentuk hiburan dapat kembali mencari makanan serupa ketika mengalami stres saat dewasa.

“Begitu Anda stres, ‘ih deadline nanti siang nih’, nah supaya mengimbangi stres itu, Anda makan sesuatu yang manis. Karena itu membawa memori yang menyenangkan,” katanya.

Ia mengatakan faktor-faktor tersebut membuat penanganan obesitas menjadi kompleks dan tidak dapat disamaratakan pada setiap orang.

Baca juga: Lemak di perut tingkatkan risiko diabetes hingga penyakit jantung

Erwin menambahkan perubahan gaya hidup perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kebiasaan yang sudah terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat, kata dia, juga perlu mengubah aktivitas rekreasi dengan memperbanyak kegiatan fisik dan mengenalkan aktivitas di alam serta olahraga kepada anak-anak sejak dini.

“Dari persepsi kami sebenarnya, obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan pembatasan satu jenis makanan," kata Erwin.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengikuti pola diet secara sembarangan dan mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Baca juga: Dokter: Obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2

Baca juga: Obesitas jadi temuan kesehatan terbanyak di Jakarta dari hasil CKG

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |