Jakarta (ANTARA) - Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan bahwa pemesanan 105 ribu unit kendaraan pikap dari India untuk kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP/Koperasi Merah Putih) memberikan beban dalam hal perawatan ke depannya.
“Dari sisi spesifikasi kendaraan, jika tidak ada penyesuaian mesin dan partsnya, pengadaan ini bakal jadi bom waktu operasional,” kata Yannes Martinus Pasaribu kepada ANTARA, Selasa.
Menurut dia, kendaraan-kendaraan di India telah menggunakan mesin dengan spesifikasi emisi BS-VI (Bharat Stage 6) atau yang dapat disetarakan dengan standar Euro 6.
Penggunaan standar Euro6 ini memiliki permasalahan di sektor bahan bakar. Jika hal tersebut tidak diperhatikan, maka kendaraan tersebut bakal memiliki permasalahan yang cukup merogoh kocek cukup dalam.
“Karena setahu saya, mesin India itu memiliki spesifikasi Euro 6 yang sangat presisi dan butuh solar murni, sehingga berpotensi tidak kompatibel dengan Biodiesel B40 Indonesia yang tinggi air dan asam lemak,” ujar dia.
Baca juga: Penggunaan pikap dari India turunkan peran industri dalam negeri
Kalaupun nantinya harus menggunakan kendaraan-kendaraan pikap dari India, dia menyarankan untuk menghadirkan modifikasi dari sektor mesin, agar nantinya bisa kompatibel dengan yang ada di Indonesia.
Penyediaan suku cadang juga nantinya bakal menjadi problematik tersendiri. Hal itu dikarenakan, diler-diler dari kendaraan-kendaraan yang didatangkan tidak serta merta hadir di seluruh kawasan atau daerah yang ada di Indonesia.
“Jika situasi ini benar-benar terjadi, maka efisiensi harga beli (CAPEX) yang dibanggakan Agrinas akan habis tertelan oleh tingginya biaya perawatan (OPEX) dan lumpuhnya distribusi pangan nasional,” tutur dia.
Jika pengadaan ratusan ribu unit kendaraan pikap dari India ini dikelola dengan baik dan benar, Yannes mengatakan ini merupakan prestasi yang positif dari Agrinas karena dianggap mampu menghadirkan efisiensi anggaran untuk kebutuhan armada-armadanya.
“Secara korporasi, strategi ini jadi prestasi direksi Agrinas, karena mampu melakukan efisiensi secara CAPEX menghemat 20-50 persen via AIFTA demi mengejar target Asta Cita ke-2 melalui swasembada pangan sekaligus menghemat waktu penyiapan rantai pasok di perdesaan,” kata dia.
Baca juga: Dirut Agrinas tegaskan taat dan tanggung jawab soal impor pikap India
Baca juga: KPK imbau pengadaan 105.000 mobil dari India agar taat prosedur
Baca juga: Purbaya memastikan rencana Agrinas impor pikap tak bebani fiskal RI
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026


















































