China dukung kelanjutan dialog Iran-AS yang dimediasi Pakistan, Qatar

4 hours ago 1

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mendukung kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar serta berharap kedua negara dapat terus melanjutkan dialog, mempersempit perbedaan, dan mencapai kemajuan dalam proses negosiasi yang tengah berlangsung.

"China mendukung upaya mediasi oleh pihak-pihak termasuk Pakistan dan Qatar. Kami berharap Iran dan AS akan terus melanjutkan pembicaraan, mempersempit perbedaan lebih lanjut, dan berupaya mencapai kemajuan yang baik dalam negosiasi mereka," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlangsungnya perundingan Iran dan AS yang dimediasi Pakistan dan Qatar di resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, Swiss.

Pembicaraan yang dimulai pada Minggu (21/6) itu merupakan bagian dari implementasi Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang bertujuan membuka jalan bagi penghentian permanen konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sebelumnya, pada 14 Juni, Iran dan AS mengumumkan telah mencapai kesepahaman 14 poin melalui mediasi Pakistan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog serta negosiasi. MoU tersebut mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kesepakatan itu mencakup penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.

Meski demikian, proses negosiasi sempat diwarnai ketegangan. Pada hari yang sama, Trump dilaporkan mengancam akan kembali menyerang Iran apabila Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon agar berhenti "membuat masalah."

"Kami mungkin akan mengambil alih selat itu jika perlu," kata Trump seperti dikutip dalam laporan Fox News.

Pernyataan tersebut memicu protes dari pihak Iran. Delegasi Teheran dilaporkan melakukan aksi "walk out" dan sempat meninggalkan lokasi perundingan. Ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kemudian mendesak AS agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang dapat mengganggu proses diplomasi.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin (22/6) mengatakan perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri konflik di Lebanon dan mengurangi tekanan terhadap perekonomian Iran.

"Mediasi tanpa henti dari Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon. Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan program rekonstruksi serta pembangunan besar diluncurkan untuk Iran," kata Araghchi di platform X.

Dalam pernyataan bersama, kedua negara mediator itu mengatakan para pihak sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama yang melibatkan Republik Lebanon untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon sesuai nota kesepahaman (MoU) yang telah dicapai AS-Iran.

"Ujian nyata pertama: mekanisme koordinasi Lebanon," kata Araghchi.

Baca juga: JD Vance : AS untung bila aset beku Iran cair, Timur Tengah makin aman

Baca juga: AS: Mayoritas dampak konflik AS-Iran terhadap pasar minyak teratasi

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |