Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Eisha Maghfiruha Rachbini mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing dan berani masuk ke pasar internasional.
Menurut dia, potensi pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit di Indonesia sangat besar, mereka dapat mengembangkan berbagai produk turunan sawit mulai dari bidang pangan (oleofood), bahan kimia (oleochemical), hingga bioenergi.
Namun Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) itu menyatakan saat ini kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional masih relatif rendah, yakni sekitar 15 persen, sehingga ke depan perlu ditingkatkan.
"Komoditas kelapa sawit dapat menjadi salah satu sektor yang mendorong peningkatan kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor. Apalagi, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia," ujar Eisha dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Dia menambahkan, saat ini program hilirisasi kelapa sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan, sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional mulai dari peningkatan harga TBS di tingkat petani, perluasan lapangan kerja, serta penciptaan efek ekonomi berantai yang lebih luas.
"Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit," katanya lagi.
Selain itu, dia menyatakan pula, pelaku UMKM perlu diperkuat agar dapat menjadi bagian dari rantai pasok global produk berbasis kelapa sawit.
Ia menjelaskan, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global dapat mendorong transformasi usaha, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat kualitas produk sesuai dengan standar global.
Ketika UMKM masuk pasar global baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global, katanya lagi, maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global sehingga mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi.
Eisha meyakini pelaku UMKM berbasis kelapa sawit memiliki peluang untuk memenuhi standar dan kualifikasi pasar global tersebut, apalagi jika berkaca pada keberhasilan program hilirisasi sawit yang sukses meningkatkan nilai tambah (added value) produk secara signifikan.
Secara umum hilirisasi sawit dapat meningkatkan nilai ekonomi produk antara tiga hingga 10 kali lipat, ujarnya pula, nilai tambah untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu dapat mencapai lebih dari 30 kali lipat.
Meski demikian, ia mengharapkan pemerintah tetap memberi pendampingan dan dukungan kepada UMKM yang berorientasi ekspor, baik berupa penguatan kapasitas keuangan, pemberian insentif, hingga bantuan teknis untuk mendorong produktivitas dan menurunkan biaya produksi.
"Tantangan menjadi eksportir cukup besar bagi UMKM. Terlebih, untuk menembus pasar global yang mana memiliki barrier cukup besar di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi dari UMKM," ujarnya.
Selama ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit yang berorientasi ekspor.
Hal tersebut bagian dari upaya untuk memperkuat industri sawit nasional, sekaligus mendorong pengembangan industri yang berkelanjutan.
Eisha menambahkan, pemerintah dapat memperkuat dukungan kepada UMKM berorientasi ekspor melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli (potential buyer), serta memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dengan mitra usaha di pasar global.
"Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, dan ITPC perlu lebih aktif melakukan pemetaan potensi pasar bagi UMKM ekspor," ujarnya pula.
Baca juga: SIEXPO 2026 perkuat UMKM dan koperasi petani sawit
Baca juga: Peneliti tekankan pemanfaatan limbah sawit jadi produk UMKM
Pewarta: Subagyo
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































