Banjarbaru (ANTARA) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Kementerian Agama (Kemenag) agar lebih memperketat lagi perizinan pendirian pesantren untuk mencegah munculnya lembaga tidak layak yang berpotensi menimbulkan kasus kekerasan terhadap santri dan santriwati.
Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU Ulun Nuha mengatakan permintaan tersebut menjadi salah satu rekomendasi utama halaqah pengasuh pesantren dalam rangkaian Gerakan Nasional Pesantrenku Aman yang telah berlangsung di berbagai daerah.
“Halaqah pengasuh meminta kepada Kementerian Agama dan pemerintah untuk memperketat izin pesantren, betul-betul menyeleksi pesantren mana yang betul-betul layak untuk dapat izin,” kata dia setelah mendampingi Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf menghadiri kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa.
Selain itu, kata dia, halaqah meminta Kementerian Agama lebih intens melakukan pengawasan terhadap pesantren dengan melibatkan seluruh komponen, termasuk RMI PBNU dan forum komunikasi, agar tidak ada pesantren abal-abal yang menimbulkan berbagai kasus kekerasan.
Baca juga: PBNU kembangkan model pendidikan “Pesantren Ramah Anak”
“Halaqah sepakat meminta pemerintah melarang semua pihak yang tidak layak dan tidak memiliki izin pesantren untuk menyelenggarakan pendidikan atas nama pesantren karena hal tersebut berpotensi merusak nama baik pesantren,” ujarnya.
Dia juga mengajak seluruh pesantren untuk berbenah dan melakukan transformasi guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh komponen pesantren.
Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru merupakan roadshow ke-22 yang dilaksanakan PBNU setelah sebelumnya berkeliling ke 21 kota dan 21 pesantren dalam rangka mengajak pesantren melakukan perubahan perilaku.
Ia menjelaskan rangkaian kegiatan tersebut dimulai dari halaqah kiai atau pengasuh, kemudian pelatihan bagi musyrif dan musyrifah atau para guru, serta pelatihan bagi santri dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing kota.
Baca juga: PBNU perkuat 20 pesantren di Kalsel bangun “Pesantren Aman”
Pelatihan bagi santri mencakup pencegahan kekerasan dan pelatihan media, sedangkan format kegiatan dapat berbeda di sejumlah kota, namun secara umum tetap diarahkan untuk melibatkan seluruh komponen pesantren dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan nyaman.
“Intinya adalah ke dalam kita ingin betul-betul mengajak semua komponen di dalam pesantren untuk mewujudkan pesantren yang aman dan nyaman,” tuturnya.
Selain itu kampanye tersebut juga ditujukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa puluhan ribu pesantren memiliki jutaan praktik baik yang mencerminkan pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman.
“PBNU terus mengajak pesantren melakukan perubahan perilaku dan transformasi melalui rangkaian kegiatan, sehingga upaya pencegahan kekerasan dan penciptaan lingkungan pesantren yang aman dapat menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Ulun Nuha.
Baca juga: Kemenag susun pedoman pesantren ramah anak, panduan cegah kekerasan
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































