PBB: Pengungsi di Yaman butuh bantuan pangan dan tempat Tinggal

4 hours ago 4

PBB (ANTARA) - Keluarga-keluarga yang mengungsi akibat permusuhan di Yaman sangat membutuhkan bantuan pangan dan tempat tinggal. Sementara itu, persediaan bantuan semakin menipis seiring meningkatnya kekerasan dan kebutuhan kemanusiaan, kata para pekerja kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (21/9).

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa bersama para mitranya, badan tersebut telah meningkatkan bantuan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi dan semua pihak yang membutuhkan.

Namun, upaya penanganan masih menghadapi kekurangan pendanaan dan kendala akses yang terus berlangsung.

Pada akhir pekan, OCHA mengatakan bahwa sebanyak 21.000 rumah tangga telah mengungsi di seluruh Yaman sejak 1 Agustus, sebagian besar di kegubernuran Taiz dan Lahj. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring berlanjutnya proses pendaftaran.

Sejak 1 Agustus, Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah memverifikasi 125 korban sipil dalam 36 insiden, dengan 32 orang tewas dan 93 lainnya terluka. Pada bulan ini, lebih dari 80 persen korban merupakan perempuan dan anak-anak. Jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

OCHA mengatakan ambulans diserang di Kegubernuran Lahj pada Jumat (18/9) pekan lalu, menewaskan seorang pengemudi dan seorang petugas medis tanggap darurat.

Sembilan fasilitas atau lokasi layanan kesehatan di kegubernuran Taiz dan Lahj serta di Kota Al Hodeidah mengalami kerusakan, ditutup, atau diserang secara langsung. Rumah sakit yang menerima korban luka kini kekurangan darah, obat bius, dan perlengkapan bedah.

Kantor tersebut mengatakan bahwa perempuan dan anak perempuan di Yaman secara historis menghadapi tingkat risiko yang tinggi, terutama perempuan hamil yang memiliki akses sangat terbatas terhadap layanan kesehatan.

Tiga perempuan meninggal setiap hari di Yaman akibat komplikasi kehamilan atau saat melahirkan. Eskalasi konflik terbaru semakin memperbesar risiko tersebut.

Dana Kependudukan PBB (UNFPA) memperkirakan lebih dari 2.700 perempuan hamil termasuk di antara mereka yang mengungsi. Dari jumlah tersebut, 300 perempuan diperkirakan akan melahirkan dalam dua pekan ke depan, sementara sedikitnya 500 lainnya membutuhkan layanan obstetri darurat atau perawatan bagi bayi baru lahir.

Namun, fasilitas obstetri darurat utama di Taiz telah ditutup, sehingga perempuan yang mengungsi terpaksa melahirkan di tempat terbuka tanpa bantuan tenaga medis terlatih.

OCHA mengatakan bahwa para mitra kemanusiaan telah menyalurkan paket bantuan tanggap darurat serta bantuan mendesak lainnya kepada hampir 13.000 rumah tangga yang mengungsi. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengirimkan perlengkapan bedah dan antibiotik ke empat rumah sakit di kota Aden dan Marib.

OCHA menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai untuk melindungi warga sipil, termasuk tenaga kesehatan, serta ambulans, dan memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |