Jakarta (ANTARA) - Perumda PAM Jaya membantah tudingan bahwa proyek galian di Jalan Peta Selatan, Kalideres, Jakarta Barat terbengkalai karena tidak adanya aktivitas pekerjaan fisik.
Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza, mengatakan, tidak adanya pekerjaan fisik di lokasi galian disebabkan oleh metode pengerjaan yang digunakan, yakni metode "jacking" atau pengeboran bawah tanah.
"Karena kita ngedorong pipanya tuh pakai model jacking namanya. Karena kalau saat ini di Jakarta sudah tidak boleh lagi metode open cut, yang dibelah dibuka semua sepanjang jalan," ujar Gatra saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, lubang galian dibiarkan terbuka sebagai penanda kesesuaian jalur pipa-pipa yang terpasang.
"Jadi pit-pit galian itu untuk ngelihat pipa-pipa yang ditusuk lewat bawah tanah itu udah benar jalurnya. Jadi kalau kita lewat situ, kasat mata itu terlihat enggak ada pekerjaan. Ya memang enggak ada pekerjaan di atasnya. Jadi bak itu (lubang), cuman sebagai bak kontrol," tutur Gatra.
Gatra menegaskan, jika menggunakan metode "open cut", maka pekerjaan akan dilakukan dengan membelah jalanan sepanjang jalur pengerjaan, yang tentunya akan berdampak masif pada lalu lintas.
"Kalau pakai metode open cut, saya ilustrasikan misalnya ada pemasangan pipa dari Monas ke Bundaran HI. Kalau open cut berarti akan banyak pembongkaran jalan dan itu akan macet parah, mengganggu lalu lintas," kata Gatra.
Baca juga: Air berbau menyengat di Jalan Jakarta Barat imbas proyek PAM Jaya
Sebaliknya, metode "jacking" hanya memerlukan titik-titik lubang tertentu untuk mendorong dan memantau pemasangan pipa dari satu ujung ke ujung lainnya di bawah tanah.
Oleh karena itu, lubang-lubang galian yang menganga di Jalan Peta Selatan saat ini sebenarnya berfungsi sebagai bak kontrol untuk memantau pergerakan pipa di bawah tanah, bukan area utama pengerjaan fisik.
"Nah, lubang-lubang itu sebenarnya buat melihat pipanya itu lurus atau enggak, sesuai apa enggak. Nah, makanya kalau orang-orang lewat situ ngelihat, pasti kesannya jadi 'ada lubang doang, tapi enggak ada yang kerja'. Ya memang enggak ada yang kerja di atas karena itu untuk mantau," ujar Gatra.
Kendati demikian, Gatra tidak menampik bahwa penyelesaian proyek di kawasan tersebut memang mengalami kemunduran dari target yang telah ditetapkan.
Awalnya, pengerjaan galian pipa air bersih yang dimulai pada November 2025 ini ditargetkan rampung pada Februari 2026. Namun, target penyelesaian tersebut terpaksa diundur menjadi April 2026.
"Di situ juga kan kebetulan ada pengerjaan utilitas lain. Jadi ketemu di situ. Jadi kondisinya, di titik galian itu memang saat ini sedang terkendala. Jadi di bawahnya galian itu, ternyata ada jaringan utilitas lain, sehingga proses pengerjaannya mundur," ungkap Gatra.
Sementara itu, mengenai luapan air got kotor dan bau yang meluber ke jalanan, Gatra menyebut bahwa luapan itu bukan berasal dari pit (bak kontrol) proyek PAM Jaya.
"Kalau kata petugas di lapangan, itu memang air got yang banyak sampahnya di situ. Tapi memang perlu peninjauan kembali di lapangan. Kita juga selama ini sudah koordinasi dengan Sudin SDA (Sumber Daya Air)," ujarnya.
Tampak di lokasi pada Senin (2/3) sore, air got membentuk kolam kecil berukuran 2 x 3 meter di tepi jalan. Air kotor berbau menyengat itu pun meluber hingga membuat becek badan jalan.
Baca juga: Warga Tambora keluhkan air PAM kotor dan berbau
Baca juga: PAM Jaya tindaklanjuti keluhan warga Tambora soal sulitnya air bersih
Bagian pinggir jalan pun tampak rusak akibat rembesan air. Di sekitar lokasi, masih terpasang papan pembatas proyek yang menutup salah satu lajur.
Di area proyek galian itu tertulis "Sedang dilakukan upaya peningkatan layanan air perpipaan" yang disertai nomor pusat layanan (call center) PAM Jaya.
Kendati galian tersebut tampak telah selesai dikerjakan dengan beberapa titik bekas galian sudah ditutup menggunakan tanah dan semen, pembatas proyek yang menutup jalan tak kunjung dibongkar.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































