Jakarta (ANTARA) - Perusahaan Umum Daerah Pengolahan Air Limbah (Paljaya) membantah anggapan bahwa tangki septik (septic tank) tak akan meluap bila tak disedot rutin.
"Stigma bahwa septic tank yang sudah puluhan tahun tidak akan meluap, tidak disedot tidak apa-apa. Salah besar itu," kata Direktur Utama Perumda Paljaya, Untung Suryadi dalam "Podcast Rabu Belajar dengan tema: "Pengolahan Air Limbah di DKI Jakarta"', Rabu.
Tangki septik sebagai solusi mencegah penularan penyakit dari bakteri koli tinja. Adapun tinja merupakan sumber penyakit yang mengandung puluhan miliar mikroba.
Karena itu, sambung Untung, tangki septik perlu disedot minimal tiga tahun sekali agar tak menyebabkan pencemaran pada lingkungan.
Tangki septik yang tidak pernah disedot dalam waktu lama akan bocor karena lumpur tinja yang masuk tidak lagi mengendap atau sedimentasi dalam tangki septik, tapi langsung mengalir keluar sehingga mencemari sumber air sekitar (seperti air tanah, badan air dan saluran drainase).
"Kalau masih pakai air tanah, sudah pasti tercemar. Dan tentang ada zat atau ada apa yang membuat (tangki septik) tidak perlu disedot, itu tidak ada. Wajib disedot minimal tiga tahun sekali," kata Untung.
Adapun tinja dari hasil sedot tangki septik akan dibawa ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) milik resmi Pemerintah. Saat ini di DKI Jakarta terdapat dua IPLT yakni di Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur; dan di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.
"Kami mengolah (tinja) sekitar 1.800 meter kubik per hari," kata Untung.
Baca juga: Paljaya ingatkan masyarakat rutin lakukan sedot WC secara berkala
Baca juga: Urai macet, Paljaya percepat pembangunan SPALD-T di TB Simatupang
Baca juga: Warga Jakarta makin sadar sedot tinja secara terjadwal
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































