Moskow (ANTARA) - Pakistan memperingati hari kemerdekaan ke-79 pada Jumat, menandai 79 tahun sejak negara tersebut memperoleh kedaulatan pada 14 Agustus 1947 setelah India Britania terbagi menjadi India dan Pakistan.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengajak masyarakat untuk mengenang pengorbanan mereka yang berjuang demi kemerdekaan negara serta memberikan penghormatan kepada pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam pidatonya mengatakan bahwa meskipun menghadapi berbagai kesulitan, Pakistan terus bergerak di jalur pembangunan dan kemakmuran.
“Selama dua setengah tahun terakhir, pemerintah Pakistan telah berhasil mengatasi situasi yang sangat sulit dan mencapai stabilisasi ekonomi,” kata perdana menteri tersebut, seperti dikutip Radio Pakistan, media pemerintah.
Sharif juga menyebut perjanjian pertahanan bersama yang ditandatangani dengan Arab Saudi dan Turkiye di Mekkah sebagai bukti meningkatnya peran Pakistan di kawasan. Ia juga menyerukan kepada partai-partai politik di negara itu untuk bersatu demi kemakmuran bangsa.
Sementara itu, kelompok separatis Baloch dari provinsi paling barat Pakistan menyatakan 14 Agustus sebagai “hari berkabung” dan menyerukan kepada 60 juta warga Baloch di seluruh dunia untuk mengibarkan bendera hitam serta mengenakan pita lengan hitam sebagai bentuk penolakan terhadap berdirinya negara Pakistan.
Pernyataan yang menyerukan boikot terhadap peringatan Hari Kemerdekaan tersebut diunggah di X oleh perwakilan kelompok separatis, Mir Yar Baloch.
Pernyataan tersebut mengeklaim bahwa dua hari sebelumnya pasukan Pakistan melakukan serangan udara terhadap sejumlah permukiman di Provinsi Balochistan yang disebut menewaskan warga sipil.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Pakistan terus upayakan fasilitasi perundingan AS-Iran
Baca juga: Pakistan desak AS jalankan MoU Islamabad di tengah ketegangan Iran
Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































