Pakar: RI perlu diplomasi khusus ke Iran soal tanker di Selat Hormuz

7 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menyoroti perlunya Indonesia untuk memperkuat langkah-langkah diplomasi dengan Iran guna memastikan keselamatan dua kapal tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz.

"Perlu pendekatan khusus kepada Iran agar yang diizinkan lewat jangan hanya punya Rusia, China, dan Pakistan," kata Rezasyah kepada ANTARA, Jumat.

Para diplomat Indonesia di Iran, menurut dia, perlu bekerja lebih keras, sehingga Iran membukakan jalan dan memastikan keselamatan dua kapal tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz.

"Minta tolong kepada pemerintah Iran agar jalur Hormuz itu dibukakan untuk kapal Indonesia," katanya.

Selain langkah-langkah diplomasi, Indonesia, menurut Reza, perlu menunjukkan solidaritas yang lebih kuat kepada Iran di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

"Sekaranglah saatnya Pemerintah Indonesia untuk mengirimkan pejabat tingginya datang ke Kediaman Duta Besar Iran di Jakarta. Kalau bisa pejabat Indonesia dari berbagai kementerian," katanya.

"Kita harus menunjukkan bahwa kita solider dengan kematian Ayatollah Ali Khamenei. Dengan menunjukkan keseriusan untuk datang, untuk bertemu, itu bisa menunjukkan kepada Iran bahwa Indonesia adalah negara yang bersahabat," imbuh Reza.

Sebelumnya pada Rabu malam (4/3), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan ada dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz.

"Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi," kata Bahlil ketika ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta.

Sementara itu, terkait penutupan Selat Hormuz tersebut, Misi tetap Iran untuk PBB membantah klaim bahwa Teheran menutup Selat Hormuz, menyebutnya tidak berdasar dan menuduh Amerika Serikat telah membahayakan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

"Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal," tulis misi tersebut di platform media sosial AS X, sebagaimana dikutip Kantor Berita Turki Anadolu pada Jumat.

Dalam pernyataan itu, misi tersebut menegaskan kembali bahwa Iran "tetap berkomitmen pada hukum internasional dan kebebasan navigasi."

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |