Moskow (ANTARA) - Profesor Evan Fraser dari Universitas Guelph di Kanada menyebutkan ada tiga hal yang mengancam pasokan pangan global, yakni konflik, perubahan iklim, dan penurunan hasil panen di sejumlah negara penghasil komoditas utama.
Konflik telah menghambat rute pasokan pangan, seperti biji-bijian, sementara perubahan iklim memperparah situasi dengan menurunkan permukaan air di sepanjang rute pelayaran utama.
Selain itu, seperti dilaporkan The New York Times, Fraser mengatakan gelombang panas dan kekeringan menyebabkan hasil panen menurun di negara-negara penghasil pangan utama.
Fraser mengatakan sistem pangan global selama ini bergantung pada tiga hal, yakni perdagangan yang lancar, energi murah, dan iklim yang stabil. Namun, ketiga kondisi tersebut kini menghadapi gangguan.
"Sistem yang kita miliki saat ini bergantung pada tiga hal, yakni perdagangan yang lancar, energi murah, dan iklim yang stabil. Saat ini, tampaknya tidak satu pun dari asumsi tersebut terpenuhi," kata pakar sistem pangan global itu.
Baca juga: Sektor pangan RI potensial masuk rantai pasok haji dan umrah global
Amerika Serikat diperkirakan mengalami panen gandum terburuk sejak tahun 1970 karena kekeringan parah. Sementara itu, Australia, sebagai salah satu negara pemasok gandum utama dunia, mengurangi luas lahan gandum karena tingginya harga pupuk.
Selain itu, Prancis dan Jerman juga memperkirakan penurunan hasil panen akibat suhu panas yang tidak normal.
Meski demikian, stok gandum dari hasil panen tahun lalu masih cukup baik dan membantu meredam tekanan terhadap harga pangan global.
Fraser menilai sistem pangan yang telah berjalan selama bertahun-tahun tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini, sehingga perlu dipikirkan kembali.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Hadapi proteksionisme global, Zulhas pastikan stok pangan surplus
Baca juga: FAO: Asia pimpin pertumbuhan produksi hewan akuatik global
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































