Meretas jalan menuju kampus PJJ kelas dunia

2 hours ago 3
Dengan segala langkah transformasi ini, UT tidak sekadar bertahan, melainkan sedang meretas jalan menjadi universitas PJJ kelas dunia yang inklusif, inovatif, dan diakui global.

Jakarta (ANTARA) - Memiliki target untuk bisa melayani sebanyak 2,5 juta mahasiswa pada 2045, Universitas Terbuka (UT) terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi pendidikan jarak jauh (PJJ) berkelas dunia.

Melalui kepemimpinan baru yang dinakhodai Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si, kampus pelopor PJJ ini melakukan berbagai perubahan dalam menentukan arah baru perguruan tinggi, mulai dari penguatan budaya belajar dan inovasi, percepatan strategi komunikasi dan kolaborasi, hingga upaya meningkatkan reputasi, integritas, dan wibawa akademik perguruan tinggi.

“UT memiliki mimpi besar yakni menjadi perguruan tinggi PJJ berkualitas dunia dengan mengukuhkan kewibawaan, menguatkan integritas dan mengokohkan reputasi akademik UT secara global,” kata Ali dalam temu media di Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni memastikan seluruh dosen memiliki kompetensi dan juga kualifikasi global. Untuk itu ia mendorong agar dosen-dosen UT memiliki kapasitas dan bisa bersaing pada level dunia.

Percepatan dilakukan terutama untuk dosen yang belum menempuh pendidikan doktoral, dengan pemberian beasiswa. Pihaknya juga menargetkan peningkatan jabatan fungsional dosen hingga bisa meraih puncaknya yakni guru besar.

“Ini juga bertujuan mendorong pengakuan publik terhadap kualitas akademisi di UT,” kata dia.

Ali menambahkan sejak kampus tersebut berdiri, tak bisa dilepaskan dari inovasi dan invensi yang telah menjadi tulang punggung bagi UT.

UT merupakan kampus pelopor yang mengusung konsep pendidikan tinggi jarak jauh. Melalui pendidikan jarak jauh diharapkan dapat meningkatkan layanan pendidikan tinggi bagi masyarakat tanpa terkendala persoalan geografis.

Konsep PJJ menjadi solusi cerdas agar pendidikan tinggi bisa menjangkau masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat dan juga usia.

Saat ini, jumlah mahasiswa UT mencapai 768.248 mahasiswa. Dengan perubahan strategi yang dilakukan pihaknya optimistis dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi. Apalagi ditambah dengan perubahan iklim pendidikan tinggi, yang menuntut fleksibilitas dan adaptasi cepat yang mendorong UT untuk memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang membuka pintu bagi siapa saja yang ingin terus belajar.

“Kami memiliki komitmen memperluas akses pendidikan tinggi bermutu bagi masyarakat,” tegas dia.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengukuhkan perannya dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan (SDG’s) yakni pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, serta penguatan institusi yang kredibel dan transparan (SDG 16).

Dia menambahkan dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang inklusif, UT tidak hanya membuka akses pendidikan bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, tetapi juga memperkuat kontribusi nyata bagi pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional dan global.

Meski sudah berdiri sejak 1984, lanjut dia, masyarakat masih salah paham dan meragukan kualitas dari kampus negeri ini.

Padahal, 90 persen program studi UT sudah terakreditasi A dan Unggul oleh BAN-PT, dan UT menjadi anggota penuh Asian Association of Open Universities (AAOU) serta International Council for Open and Distance Education (ICDE).

“Pengalaman UT selama lebih dari empat dekade dan pengakuan komunitas internasional dapat menjadi modal besar untuk memperkokoh citra UT.”

Untuk itu upaya meningkatkan citra UT dilakukan secara sistematis dan terukur. Media massa berperan dalam membangun kepercayaan publik.

Pihaknya juga menargetkan penguatan program studi unggul, baik dari sisi perencanaan, pembelajaran, hingga kualitas lulusan.

Sasar Gen Z

Jika sebelumnya mahasiswa UT identik dengan orang yang sudah bekerja, maka UT mengubah target mahasiswanya. UT kini membidik kalangan Gen Z, mengingat jumlah Gen Z atau generasi yang lahir pada kurun waktu 1997 hingga 2012, hampir 27,94 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Akademik UT Prof Rahmat Budiman mengatakan pihaknya mulai menyasar Gen Z menjadi mahasiswa UT. Saat ini hampir 80 persen mahasiswa UT merupakan generasi muda. Padahal pada 2015, hanya 12 persen mahasiswa UT yang berusia di bawah 24 tahun.

“Perkuliahan yang super fleksibel, bisa diakses kapan saja dan dari mana saja, sangat cocok dengan gaya hidup Gen Z,” ujar Rahmat.

UT tidak lagi ingin dikenal sekadar “kampus orang dewasa yang sudah bekerja”, tapi menjadi kampus pilihan pertama bagi anak muda.

Mahasiswa UT dapat belajar melalui Learning Management System (LMS) modern, didukung digital library, e-book, video pembelajaran, hingga tutorial online. Di daerah yang akses internetnya terbatas, UT menyediakan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang keberadaannya akan terus ditambah jumlahnya, terutama di wilayah 3T.

Untuk menarik minat Gen Z, UT menyiapkan lebih dari 20.000 kuota beasiswa setiap tahun. Sumbernya beragam: KIP Kuliah, beasiswa pemerintah daerah, perusahaan mitra, hingga alumni UT yang kini sukses di berbagai bidang.

Dengan segala langkah transformasi ini, UT tidak sekadar bertahan, melainkan sedang meretas jalan menjadi universitas PJJ kelas dunia yang inklusif, inovatif, dan diakui global.

Target 2,5 juta mahasiswa pada 2045 sepertinya bukan lagi angan-angan, melainkan peta jalan yang sedang dikejar dengan penuh keyakinan.

Universitas Terbuka bukan lagi sekadar “kampus terbuka”. Ia sedang bertransformasi menjadi kampus masa depan yang inklusif, inovatif, dan siap bersaing di level dunia.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |