Jakarta (ANTARA) - Ketika berbicara tentang masa depan Indonesia sebagai negara maju, perhatian publik sering tertuju pada pembangunan infrastruktur, penguatan industri manufaktur, atau peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Padahal, ada satu fondasi yang kerap luput dari sorotan, tetapi menentukan keberhasilan seluruh agenda pembangunan tersebut, yakni kemandirian energi.
Tidak ada negara yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, mengembangkan pendidikan, atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan berkelanjutan.
Oleh sebab itu, isu ketahanan energi sesungguhnya bukan hanya persoalan teknis sektor minyak dan gas bumi, melainkan bagian dari strategi besar sebuah bangsa dalam menentukan masa depannya sendiri.
Dalam hal itulah target produksi minyak nasional sebesar satu juta barel per hari dan produksi gas 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030 menjadi hal yang signifikan untuk menjadi perhatian.
Target tersebut muncul di tengah tantangan yang tidak ringan. Banyak lapangan migas Indonesia telah beroperasi selama puluhan tahun dan menghadapi penurunan produksi alamiah atau natural decline.
Kondisi ini merupakan tantangan yang dihadapi hampir seluruh negara produsen migas yang memiliki lapangan tua.
Namun, perkembangan teknologi memberikan harapan baru. Salah satu pendekatan yang semakin mendapat perhatian adalah penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), yaitu teknologi yang memungkinkan cadangan minyak yang masih tersisa di dalam reservoir dapat diproduksi lebih optimal.
Dengan memanfaatkan teknologi, seperti injeksi uap dan berbagai metode peningkatan perolehan minyak lainnya, sumur-sumur tua yang sebelumnya dianggap mengalami penurunan produktivitas masih memiliki peluang untuk memberikan kontribusi yang signifikan.
Optimisme terhadap pencapaian target satu juta barel per hari juga didukung oleh perkembangan teknologi eksplorasi yang semakin maju.
Kemampuan pemetaan bawah permukaan yang lebih akurat membuka peluang ditemukannya sumber daya baru yang sebelumnya sulit dijangkau.
Di banyak negara, kemajuan teknologi justru menjadi faktor yang mengubah persepsi terhadap keterbatasan sumber daya energi.
Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi Denny Januar Ali atau Denny JA mengatakan target produksi satu juta barel per hari bukanlah mimpi kosong apabila didukung oleh penerapan teknologi EOR, kegiatan eksplorasi yang aktif, percepatan perizinan, serta hubungan yang semakin sinergis antara berbagai pemangku kepentingan di sektor energi.
Namun yang menarik, Denny JA tidak hanya menekankan pada produksi. Ia juga menegaskan pentingnya membangun ekosistem energi yang kolaboratif.
Dalam pandangannya, negara tidak dapat berjalan sendiri. Keterlibatan sektor swasta diperlukan untuk menghadirkan inovasi, efisiensi, dan pengembangan teknologi.
Meski demikian, partisipasi tersebut harus tetap berada dalam koridor transparansi, pengawasan yang baik, dan keberpihakan pada kepentingan nasional.
Tantangan energi
Gagasan tersebut relevan dengan tantangan energi masa kini yang semakin kompleks. Industri energi modern membutuhkan investasi besar, teknologi tinggi, dan kemampuan manajemen risiko yang tidak sederhana.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat menjadi semakin penting.
Denny JA juga memandang dimensi sosial dari ketahanan energi tak kalah penting. Menurutnya, keberhasilan sektor energi tidak boleh hanya diukur dari jumlah barel yang diproduksi.
Masyarakat dan daerah penghasil energi juga harus memperoleh manfaat yang nyata melalui penguatan pendidikan, layanan kesehatan, pengembangan kebudayaan, serta pertumbuhan ekonomi lokal.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































