Mentan: Pangan alat pertahanan negara, RI tak lagi bergantung impor

4 hours ago 1
Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat,

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi instrumen strategis dalam menjaga kedaulatan dan pertahanan negara, yang membuat Indonesia kini tak lagi bergantung pada impor.

Amran mengatakan, di tengah ancaman krisis global, Indonesia semakin tangguh setelah berhasil meningkatkan produksi dan menekan ketergantungan impor pangan khususnya beras dan sejumlah komoditas lainnya.

“Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat,” kata Mentan dalam Stadium General Pasis SeskoAU Angkatan ke-64 TP 2026 yang digelar di Gedung Widya Mandala I Sesko AU Lembang, Jawa Barat, sebagaimana keterangan di Jakarta, Rabu.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, saat ini Indonesia telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas pangan strategis meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

Baca juga: Mentan yakin komoditas pangan bantu RI capai swasembada energi ‎

Amran menekankan, ketergantungan impor merupakan titik lemah sebuah negara, terutama dalam situasi krisis global. Ketika negara produsen menahan ekspor, negara pengimpor akan langsung terdampak.

Karena itu, pemerintah mengambil langkah strategis dengan meningkatkan produksi dalam negeri, menekan impor secara bertahap, serta memperkuat cadangan pangan nasional.

"Berdasarkan data internasional, termasuk dari United States Department of Agriculture (USDA), produksi pangan Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan," ujarnya.

Kementan juga mencatatkan capaian bersejarah dengan stok beras nasional mencapai 4,3 juta ton, dan ditargetkan meningkat menjadi 4,5 juta ton dalam waktu dekat. Capaian ini menegaskan posisi ketahanan pangan nasional yang semakin kuat di tengah dinamika global.

Baca juga: BRIN topang kesuksesan Program MBG lewat inovasi dan riset peternakan

“Ini bukan hanya ekonomi, ini soal kedaulatan. Pangan adalah bagian dari sistem pertahanan negara,” ucap tegasnya.

Keberhasilan itu membawa Indonesia keluar dari posisi sebagai negara importir menuju pemain yang mulai diperhitungkan secara global. Bahkan, kebijakan pengendalian impor Indonesia disebut mulai berdampak pada dinamika harga pangan dunia.

Dia mengatakan, sejumlah negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, hingga Kanada mulai mempelajari strategi Indonesia dalam meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas pasokan.

“Yang membedakan kita adalah keberanian mengambil keputusan dan kecepatan bertindak,” kata Amran.

Baca juga: Perang Timur Tengah dan ancaman swasembada pangan

Selain pangan, Mentan juga menyoroti pentingnya kemandirian energi sebagai bagian dari pertahanan nasional.

Indonesia sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.

Dengan optimalisasi tersebut, Indonesia ditargetkan mampu mengurangi ketergantungan impor energi dalam beberapa tahun ke depan.

“Kalau pangan dan energi kita kuat, tidak ada negara yang bisa menekan kita,” tutur Amran.

Baca juga: Mentan: Pemerintah perkuat ketahanan pangan mandiri

Penguatan sektor pertanian juga berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. Program berbasis desa dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, serta memperkuat fondasi ekonomi rakyat.

Melalui penguatan koperasi, rantai distribusi dipangkas sehingga keuntungan lebih banyak dinikmati petani, sementara harga menjadi lebih terjangkau bagi konsumen.

“Kalau desa bergerak, ekonomi tumbuh, negara akan kokoh,” ujar Amran.

Dengan kombinasi ketahanan pangan, kemandirian energi, dan hilirisasi sumber daya strategis seperti nikel, Indonesia dinilai berada di jalur menuju kekuatan global baru.

Baca juga: Mentan: Stok beras capai empat juta ton, aman hingga akhir tahun

Dia mengaku, optimistis dengan konsistensi kebijakan dan kolaborasi seluruh elemen bangsa, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memimpin.

“Ketahanan pangan adalah benteng utama. Kalau ini kuat, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berdaulat penuh,” kata Amran.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |