Menko PM respons insiden tragis siswa SD di NTT, minta pemda terbuka

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar merespons insiden tragis seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.

Muhaimin menegaskan peristiwa tragis tersebut tidak boleh lagi berulang ke depannya.

"Jadi, saya sudah minta kepada seluruh jajaran, baik pemerintah pusat maupun daerah, dan juga kepada masyarakat untuk betul-betul terbuka terhadap keadaannya. Apabila memang membutuhkan bantuan alat tulis, bantuan apapun, itu harus segera ditangkap (aspirasinya, red.), dan disampaikan. Jangan sampai beban-beban ekonomi tidak tersampaikan kepada para pejabat ataupun tokoh masyarakat," kata Muhaimin menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu.

Menko PM mengatakan kementeriannya saat ini masih menelusuri informasi-informasi mengenai insiden tragis tersebut.

"Iya kita lagi telusuri. Yang paling penting aparat pemerintahan betul-betul responsif dan terbuka untuk tidak boleh lagi ada yang tersumbat (penyaluran bantuan, red.)," ujar Muhaimin.

Baca juga: Menko PM nilai kasus siswa SD bundir di NTT jadi cambuk semua pihak

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan rasa keprihatinannya terhadap insiden tragis yang dialami oleh seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada tersebut.

Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.

“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2).

Baca juga: DPR: Jadikan kasus siswa di NTT momentum atasi kemiskinan struktural

Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama
”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Komisi XIII DPR minta agar kasus bocah SD di NTT tak terulang lagi

Baca juga: Kemendikdasmen selidiki insiden tragis siswa SD di NTT

Baca juga: Respons anak bunuh diri di NTT, Menkes siapkan layanan psikologi

Pewarta: Genta Tenri Mawangi, Maria Cicilia Galuh
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |