Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikini menyoroti adanya alarm kesehatan mental anak ditandai kenaikan siswa berpikir dan mencoba bunuh diri dalam tujuh tahun terakhir sehingga diperlukan upaya mengatasi isu itu di lingkungan keluarga dan sekolah.
Dalam pertemuan terkait penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta, Kamis, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti bahwa berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada 2015 dan 2023 memperlihatkan persentase siswa yang berpikir ingin mengakhiri hidup meningkat 1,6 kali lipat, dari 5,4 persen menjadi 8,5 persen.
"Kita mencoba menyelesaikannya sedini mungkin, jadi di hulu. Tadi juga ada data yang memperlihatkan keinginan untuk bunuh diri, berpikir dan mencoba ini terjadi terutama karena masalah di keluarga. Kemudian yang kedua adalah masalah bullying, ini bisa terjadi di sekolah, bisa di luar sekolah karena melihat sosial media," jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Sementara itu, survei yang sama memperlihatkan persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2016 menjadi 10,7 persen pada 2023. Data yang sama memperlihatkan siswa perempuan punya kecenderungan lebih tinggi baik untuk yang berpikir dan mencoba mengakhiri hidup.
Tidak hanya itu, Menkes juga menyoroti data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2023-2025 yang memperlihatkan usia 11-17 tahun menjadi kelompok usia paling tinggi yang mengakhiri hidup.
Data KPAI serta laporan kesehatan mental berbasis daring Kemenkes Healing119.id menemukan faktor utama pemicu keinginan bunuh diri pada anak pengasuhan dan konflik keluarga memiliki persentase 24-46 persen, perundungan 14-18 persen, masalah psikologis 8-26 persen dan tekanan akademik 7-16 persen.
Baca juga: Menkes: Program CKG jadi strategi preventif perkuat BPJS Kesehatan
Untuk itu dengan penandatanganan SKB yang dilakukan sembilan kementerian dan lembaga dimaksudkan untuk mengatasi berbagai isu tersebut mulai dari rumah tangga dan sekolah.
"Yang terutama adalah simpul keluarga karena ini yang paling besar presentasinya Itu sebabnya kenapa diajak juga Mendukbangga, Menteri Sosial, Menteri Agama itu untuk memastikan bahwa keluarga ini kita perbaiki gaya hidupnya agar bisa memberikan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak," jelas Menkes.
Di sisi lain, upaya edukasi, sosialisasi, pencegahan serta screening itu juga terus didorong di sekolah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi serta Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta pada hari ini.
Baca juga: Menkes targetkan layanan kesehatan pascabencana Sumatra pulih Maret
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































