Menenun pengabdian di Tanah Suci

5 hours ago 4
Melayani pengibadah haji bukanlah sekadar kewajiban administratif atau tugas negara yang dibayar, melainkan manifestasi dari ibadah yang paling mulia

Jeddah (ANTARA) - Langit perlahan berganti rupa, mengantarkan langkah-langkah penuh keikhlasan menuju Baitullah. Tahun 2026 atau 1447 Hijriah pun kini menjadi saksi pergerakan massal umat Islam Indonesia.

Dengan total kuota mencapai 221.000 orang, yang terdiri dari 203.320 orang dalam jamaah reguler dan 17.680 orang dalam jamaah khusus, kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji tentu membutuhkan pilar penyangga yang kokoh. Pilar itu terwujud dalam diri sekitar 1.600 orang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

Setelah para petugas haji Daerah Kerja (Daker) Bandara dan Daker Madinah lebih dulu menjejakkan kaki serta membuka gerbang pelayanan di Tanah Suci, termasuk menyambut kedatangan jamaah haji kloter pertama pada Rabu (22/4), giliran petugas haji dari Daker Makkah yang menyusul merapatkan barisan.

Keberangkatan mereka bukanlah sekadar perjalanan biasa, melainkan puncak dari sebuah penantian panjang, persiapan fisik dan mental yang tak kenal lelah, serta niat suci untuk melayani para tamu Allah.

Di pundak mereka tertitip harapan ratusan ribu peziarah dari Indonesia yang rindu menunaikan rukun Islam kelima dengan khusyuk, aman, dan nyaman.

Perjalanan panjang para pelayan tamu Allah ini sejatinya tidak dimulai saat mereka duduk di kursi pesawat, melainkan telah merentang jauh sejak Desember 2025.

Di penghujung tahun itu, ketika banyak orang bersiap menyambut pergantian tahun dengan gegap gempita liburan, mereka justru berkutat dengan tumpukan materi pembelajaran, doa yang tak putus di sepertiga malam, dan serangkaian ujian seleksi yang ketat.

Ribuan pendaftar dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga medis, akademisi, ASN, TNI/Polri, media, hingga instansi lainnya, berlomba memperebutkan kesempatan mulia ini.

Lulus seleksi barulah langkah pertama, ia adalah gerbang awal menuju penempaan diri yang sesungguhnya.

Tiba waktunya bagi mereka untuk digembleng. Selama 20 hari penuh, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, menjadi saksi bisu transformasi mereka dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bernuansa semi militer.

Di tempat ini, ego sektoral diluruhkan. Pangkat, gelar akademik, dan status sosial ditanggalkan sepenuhnya, diganti dengan satu identitas yang sama, yaitu pelayan jamaah haji.

Sejak fajar belum menyingsing hingga larut malam, fisik dan mental mereka ditempa untuk tahan banting menghadapi suhu ekstrem dan tekanan psikologis yang kelak menanti di Arab Saudi. Disiplin, kekompakan barisan, serta kecepatan merespons krisis ditanamkan dalam-dalam.

Tidak berhenti di situ, penempaan dilanjutkan ke ranah intelektual melalui 10 hari diklat secara daring. Dalam fase ini, mereka mendalami peta kompleks wilayah Arab Saudi, fikih haji, manajemen krisis, hingga psikologi massa.

Total 30 hari persiapan intensif ini dirancang untuk satu tujuan mutlak yaitu membongkar "aku" menjadi "kita", memastikan mereka siap menjadi garda pelindung jamaah haji Indonesia.

Tugasku Ibadahku

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |