Makassar (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) siap melakukan modernisasi pada seluruh laboratorium se-Indonesia dengan anggaran sekitar Rp4-5 triliun agar fungsi laboratorium bisa lebih maksimal dalam mengawal kinerja kekarantinaan.
Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean mengatakan modernisasi laboratorium sudah harus segera dilakukan agar Barantin bisa naik level menyamai negara-negara maju dan dipastikan akan menciptakan kecepatan layanan hingga transparansi yang lebih optimal.
"Saya harapkan tahun 2027 semua laboratorium karantina se-Indonesia itu sudah melakukan modernisasi. Jadi level laboratorium kita itu akan sama dengan negara-negara maju dan negara-negara mitra kita," katanya saat berada di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.
Baca juga: Barantin gandeng Kanada perkuat keamanan pangan ASEAN
Sahat Manaor hadir di Makassar untuk mengawal reses para anggota Komisi IV DPR RI ke Kantor Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan di Makassar.
Ia mengatakan Barantin akan modernisasi seluruh laboratorium dari Sabang hingga Papua dengan nilai investasi sekitar Rp4 triliun sampai Rp5 triliun. Anggaran ini akan mengubah wajah laboratorium, mencakup penggantian peralatan laboratorium, perbaikan gedung, peningkatan sistem layanan, dan penguatan SDM.
"Jadi jangan juga alatnya canggih, tetapi SDM-nya tidak dilatih. Jadi semua aspek kita akan rapikan semuanya. Mudah-mudahan 2027 nanti bisa kita pertanggungjawabkan," kata Sahat.
Baca juga: Barantin luncurkan Finquest percepat pembangunan karantina
Sebelumnya pihak Barantin juga telah melakukan perbaikan sistem layanan dengan memaksimalkan digitalisasi, sehingga tidak lagi ditemui sistem manual dalam pelayanan.
Sahat menjelaskan sistem layanan secara digital yang dilakukan pihak Barantin masih termasuk kategori low risk (risiko rendah) yang pengerjaannya memakan waktu 6-7 jam.
"Saya sudah membenahi sistem layanan secara digital, kemudian laboratoriumnya kita perkuat, mudah-mudahan tahun depan ada loan juga, kita bereskan semua dan 2027 sudah selesai," ucapnya.
Baca juga: Barantin: Implementasi sistem e-Phyto RI jadi rujukan Kamboja
Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































