Mendukbangga: Ketahanan mental kunci generasi muda hadapi era AI

6 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengemukakan ketahanan mental atau resilience menjadi kunci bagi generasi muda Indonesia dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat pada era akal imitasi (AI).

Dalam pembukaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Generasi Berencana (Genre) ke-16, Wihaji mengatakan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah peradaban baru yang ditandai oleh derasnya arus informasi dan perkembangan AI yang memengaruhi cara berpikir masyarakat.

"Hari ini kita membutuhkan kesiapan mental untuk bangkit yang kita sebut dengan resilience, karena algoritma peradaban yang dipengaruhi AI membuat batas antara mana yang benar, mana yang salah, mana yang menjadi tuntunan, dan mana yang menjadi tontonan menjadi semakin bercampur," katanya di Jakarta, Senin.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi remaja saat ini jauh berbeda dibandingkan 16 tahun lalu. Jika sebelumnya kreativitas dan inovasi menjadi fokus utama, kini generasi muda juga dituntut memiliki kemampuan menyaring informasi dan ketahanan mental yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai konten digital.

Wihaji menyebutkan, Indonesia memiliki sekitar 46 juta keluarga yang memiliki anggota berusia 10–24 tahun. Kelompok usia tersebut merupakan generasi yang akan memegang peran penting dalam pembangunan nasional pada dua dekade mendatang.

"Setuju tidak setuju, 17 sampai 20 tahun lagi kalian (generasi muda) yang akan memimpin Indonesia, sehingga yang harus disiapkan bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kematangan mental dan kemampuan untuk bangkit menghadapi tantangan," ujar dia.

Ia juga mengingatkan, perkembangan AI membawa manfaat besar, tetapi penggunaannya harus disertai kemampuan berpikir kritis. Generasi muda tidak boleh menerima begitu saja setiap informasi yang diperoleh dari teknologi digital tanpa melakukan verifikasi.

Oleh karena itu, Genre memiliki peran strategis dalam membantu remaja menghadapi perubahan zaman melalui penguatan karakter, nilai keluarga, dan pendampingan yang berkelanjutan.

"Genre menurut saya menjadi bagian dari jawaban bagi jutaan keluarga Indonesia yang memiliki remaja. Mereka tidak hanya membutuhkan pegangan, tetapi juga membutuhkan tuntunan dan arah yang jelas," paparnya.

Selain itu, Wihaji menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi fondasi utama pembentukan karakter generasi muda melalui pelaksanaan delapan fungsi keluarga, termasuk fungsi agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Genre Indonesia 2024-2026, I Putu Arya Aditia Utama mengemukakan, Genre memiliki tiga peran utama untuk mewujudkan generasi muda yang lebih maju, yakni sebagai aktor, amplifikator, dan akselerator.

"Genre tidak hanya berdiskusi, tetapi juga melakukan aksi nyata di lapangan. Kader Genre aktif turun ke sekolah, kampung, dan masyarakat untuk memberikan edukasi kepada remaja," katanya.

Arya melanjutkan, sebagai amplifikator, selama 16 tahun, Genre menjadi penyebar berbagai pesan positif bersama Kemendukbangga/BKKBN, oleh karena itu, Genre terus menyuarakan optimisme terhadap terwujudnya Indonesia Emas 2045.

"Sebagai akselerator, Kader Genre dibekali pemahaman mengenai transisi kehidupan remaja. Organisasi Genre menjadi salah satu sarana penting dalam proses pembentukan karakter remaja. Kader-kader Genre dipersiapkan menjadi calon ayah dan ibu yang baik di masa depan," tuturnya.

Baca juga: Mendukbangga: Bahasa kasih kunci jaga keharmonisan keluarga

Baca juga: Wamendukbangga tinjau pelayanan KB di Puskesmas Tanjungpinang

Baca juga: Kemendukbangga: Kualitas SDM tanpa stunting mesti jadi agenda nasional

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |