Singaraja, Bali (ANTARA) - Pedagang sarana persembahan (banten) di Pasar Banyuasri, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali ramai pesanan menjelang Hari Suci Galungan, hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) menurut agama Hindu.
"Banyak yang pesan jelang Galungan. Begini sudah biasa dan selalu membawa stok tambahan," kata Nengah Warti (60), salah satu pedagang di Pasar Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin.
Ia mengatakan peningkatan jumlah pembeli sudah mulai terasa sejak beberapa hari terakhir, utama mereka yang sedang mencari kebutuhan untuk sembahyang Galungan.
Menurutnya, pesanan terus berdatangan baik dari pelanggan tetap maupun masyarakat yang membeli langsung ke pasar.
"Menjelang Galungan memang selalu ramai. Banyak yang pesan canang, bunga, dan perlengkapan banten upacara di rumah,” ujarnya dia.
Dia menjelaskan aktivitas penjualan biasanya meningkat tajam pada H-7 hingga H-1 Galungan.
Dalam sehari, dirinya mampu menerima pesanan dalam jumlah lebih besar dibandingkan hari biasa, terutama untuk sarana upacara yang sudah dirangkai.
Baca juga: Mengenal filosofi serta tradisi dalam Hari Raya Galungan kedua & Kuningan 2025
Baca juga: Makna dan rangkaian Hari Raya Galungan yang diperingati umat Hindu
Nengah Warti juga menuturkan, sebagian besar pembeli memilih membeli sarana yang sudah siap pakai karena dinilai lebih praktis.
Selain itu, kesibukan masyarakat menjelang hari raya membuat permintaan terhadap paket perlengkapan upacara terus meningkat setiap tahunnya.
“Sekarang banyak warga memilih membeli yang sudah jadi supaya lebih cepat dan tidak perlu merangkai sendiri di rumah,” katanya.
Selain melayani pembelian langsung, dirinya juga menerima pesanan dari pelanggan di beberapa wilayah Kota Singaraja. Pesanan tersebut umumnya berupa paket canang, pejati, dan perlengkapan sembahyang untuk kebutuhan keluarga besar.
Di sisi lain, kenaikan permintaan turut berdampak pada harga sejumlah bahan baku seperti bunga dan janur. Meski demikian, dirinya mengaku masih berupaya menjaga harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
"Memang bahan baku seperti janur agak mahal sekarang. Satu ikat bisa sampai Rp15 ribu. Dulu hanya Rp10 ribu. Tapi saya karena sudah ada langganan jadi diberikan harga biasa," kata dia.
Pedagang lain, Made Ayu (50) menjelaskan, peningkatan pesanan terjadi cukup signifikan dibandingkan hari biasa. Menurutnya, banyak pelanggan memilih memesan sarana upacara dalam jumlah besar untuk diantar langsung ke rumah karena lebih praktis.
“Sekarang pesanan sangat ramai, apalagi banyak pelanggan minta dikirim ke rumah. Kadang kami sampai kewalahan membagi waktu antara melayani pembeli di pasar dan menyiapkan pesanan yang harus diantar,” ujarnya.
Ayu menuturkan, dirinya harus mulai menyiapkan pesanan sejak dini hari agar seluruh permintaan pelanggan dapat terpenuhi tepat waktu.
“Kalau mendekati Galungan seperti sekarang hampir tidak ada waktu istirahat karena pesanan terus masuk,” katanya.
Meski mengalami peningkatan aktivitas dan beban kerja, para pedagang mengaku bersyukur karena momentum Hari Raya Galungan memberikan dampak positif terhadap pendapatan mereka.
Tradisi masyarakat Bali dalam menyiapkan sarana persembahyangan dinilai turut menggerakkan roda ekonomi pedagang kecil di pasar tradisional.
Baca juga: Bulog pastikan stok beras 10 juta kg aman buat sambut Galungan
Baca juga: Festival Bazar Pangan di Sanur sediakan bahan Galungan dan Kuningan
Baca juga: Pengunjung Desa Wisata Penglipuran naik 42 persen saat Galungan
Pewarta: Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































