Menbud: Teknologi XR mampu perkuat ekosistem perfilman nasional

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi XR dapat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional.

Fadli juga menekankan pentingnya pengembangan konten yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan inspiratif, khususnya yang mengangkat tema sains dan teknologi.

“Kita perlu mendorong lahirnya karya-karya bertema STEM yang dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat sekaligus memperkuat daya saing budaya Indonesia,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut, dalam pertemuan dengan produser dan sutradara film Dendi Reynando dan Upie Guava, Fadli menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber cerita yang sangat besar dan potensial untuk diangkat menjadi karya film, baik yang bersumber dari tokoh-tokoh ilmuwan maupun sejarah panjang peradaban Nusantara.

“Selain teknologi yang mumpuni, kita juga perlu perkuat ide dan jalan cerita sebagai fondasi utama, yang kemudian didukung oleh pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan kualitas film yang optimal,” tambahnya.

Baca juga: Mendukung pemajuan kebudayaan nasional melalui Dana IndonesiaRaya

Dendi Reynando dan Upie Guava memaparkan pengembangan film Pelangi di Mars yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan hadirnya film anak Indonesia yang berkualitas dan mampu mendorong imajinasi.

Film ini dikembangkan sebagai karya fiksi ilmiah dengan pendekatan teknologi XR yang telah diriset dan dikembangkan secara mandiri di Indonesia selama kurang lebih tiga tahun, termasuk pembangunan infrastruktur studio dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Upie Guava menyampaikan bahwa teknologi XR memberikan fleksibilitas tinggi dalam proses produksi, sehingga memungkinkan sineas untuk menghadirkan berbagai latar visual secara efisien tanpa ketergantungan pada lokasi fisik dan biaya yang tinggi.

“Dengan XR, sutradara dapat bereksperimen dan berimajinasi secara lebih luas tanpa dibatasi oleh kendala biaya produksi konvensional,” ujarnya.

Sementara itu, Dendi Reynando menegaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang sebagai bagian dari strategi pengembangan IP lokal yang berkelanjutan. Karakter-karakter dalam film tersebut tengah diarahkan untuk pengembangan lisensi dan produk turunan, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dan daya saing di pasar nasional.

Selain itu, Dendi menyampaikan bahwa teknologi XR juga berpotensi besar dimanfaatkan untuk produksi film dengan berbagai latar, termasuk film sejarah yang membutuhkan rekonstruksi visual kompleks dengan biaya yang lebih efisien.

“Teknologi ini memungkinkan kita menghadirkan berbagai latar, termasuk masa lampau dalam film sejarah, tanpa memerlukan pembangunan set fisik berbiaya besar. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga dapat menghadirkan alternatif tontonan yang lebih beragam kepada masyarakat,” tutupnya.

Baca juga: Fadli Zon: Budaya jadi jembatan dialog di tengah dinamika global

Baca juga: Menbud tekankan upaya kolaboratif dalam pelestarian cagar budaya

Baca juga: Menbud dorong penguatan peran keraton sebagai pusat edukasi budaya

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |