Lombok Utara (ANTARA) - Sore perlahan jatuh pada sebuah pulau kecil seluas lebih kurang 150 hektare di Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Hamparan pasir putih selembut tepung terigu terbuka lebar saat air laut surut dan meninggalkan genangan di antara terumbu karang. Di sanalah Rara, bocah perempuan berusia delapan tahun, menemukan dunianya sendiri.
Ia mengenakan kaos ungu, celana jeans panjang, dan sandal karet slipper. Rambutnya yang pendek model bob tampak kekuningan diterpa cahaya matahari sore, sementara kulitnya yang berwarna sawo matang berkilau oleh sisa air laut.
Rara menyusuri tepian pantai bersama enam temannya. Sesekali tangan-tangan kecil mereka mengintip ke balik batu karang berharap menemukan ikan atau gurita yang terjebak dalam genangan.
Bagi anak-anak Gili Meno, siklus air laut yang mencapai titik terendah akibat gravitasi Bulan dan Matahari bukan sekadar pergantian pasang dan surut. Fenomena harian itu merupakan waktu ketika pantai berubah menjadi halaman bermain sekaligus tempat mencari lauk untuk dibawa pulang.
"Setiap air laut surut, kami selalu ke pantai untuk bermain dan mencari ikan dan gurita. Jika beruntung bisa dapat 100 ekor, tetapi kadang hanya dapat 10 ekor," kata siswi kelas dua sekolah dasar tersebut saat ditemui ANTARA di suatu hari di Bulan Agustus.
Rara bersama temannya sedang menangkap ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang dan genangan saat air laut surut di pantai Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Senin (10/8/2026). ANTARA/Sugiharto PurnamaDi kejauhan, perahu-perahu tradisional yang tertambat sedang menunggu laut kembali pasang. Gunung Rinjani dan gugusan perbukitan Pulau Lombok berdiri dalam bayang-bayang cahaya sore di seberang Gili Meno.
Langit biru perlahan diselimuti awan, sementara matahari menumpahkan warna keemasan ke permukaan laut berwarna biru toska yang semakin jauh meninggalkan bibir pantai.
Rara bersama teman-temannya terus mencari ikan dan gurita di hamparan karang yang basah tak jauh dari area pelabuhan. Mereka berlari, berjongkok, bermain, lalu kembali menelusuri genangan.
Tawa pecah bersama suara angin dan debur ombak yang tersisa saat mereka menemukan gurita menyemprotkan cairan tinta pekat membuat tangan berubah warna menjadi hitam. Tak ada rasa takut, yang ada hanya riuh kegembiraan anak-anak yang menemukan sesuatu dari laut.
Setiap kali air surut, laut seperti menyingkap peti harta karun, meninggalkan ikan, gurita, dan kehidupan kecil lainnya di antara karang untuk ditemukan oleh tangan-tangan mungil. Bagi anak pantai, laut adalah tempat bermain sekaligus dapur yang tak benar-benar jauh dari rumah.
Bangun ulang ekosistem
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































