Masalah pencernaan dapat berkontribusi pada munculnya kabut otak

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Ahli gastroenterologi Dr. Kyle Staller mengemukakan bahwa banyak pasien dengan gangguan pencernaan yang juga mengalami masalah seperti kesulitan berkonsentrasi dan kabut otak.

Orang yang sedang sembelit dan kembung, misalnya, mungkin menggambarkan "perasaan berat atau terbebani baik secara fisik maupun mental" menurut ahli gastroenterologi di Massachusetts General Hospital di Amerika Serikat tersebut.

Menurut publikasi The New York Times yang dikutip oleh Channel News Asia pada Minggu (17/5), sebuah studi mendapati lebih dari setengah dari 100 peserta penelitian mengalami kabut otak bersamaan dengan sindrom iritasi usus besar atau gastroparesis, kondisi kronis di mana lambung kesulitan mengosongkan isinya.

Mengenai kaitan saluran pencernaan dengan kabut otak, ilmuwan dan klinisi menjelaskan bahwa ada ribuan serabut yang membentang dari otak ke perut yang disebut saraf vagus. Ini adalah saluran utama dari sumbu usus-otak.

Sebagai saraf utama dari sistem saraf parasimpatik, saraf ini membantu tubuh beristirahat, mencerna, dan mencegah peradangan.

Sinyal juga bergerak bolak-balik antara usus dan otak melalui hormon stres dan sel imun.

Selain itu, bakteri usus menghasilkan pembawa pesan kimia atau neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin yang memengaruhi sistem saraf.

Ketika masuk ke aliran darah atau merangsang saraf vagus, mereka dapat membantu meningkatkan suasana hati, mendorong motivasi, dan menenangkan sistem saraf.

Menurut Gerard Clarke, profesor di University College Cork di Irlandia yang mempelajari efek bakteri usus pada otak dan perilaku, kabut otak adalah hasil dari "koneksi yang buruk" antara usus dan otak.

Dr. Staller menyampaikan bahwa disfungsi sistem saraf otonom, istilah umum untuk berbagai gangguan yang mempersulit tubuh untuk mengontrol detak jantung, tekanan darah, dan suhu, dapat menyebabkan masalah pencernaan dan kabut otak.

Baca juga: Otak cerdas berawal dari pencernaan sehat

Beragam mikrobioma yang ada di dalam usus membantu melindungi tubuh dari penyakit, mengurangi peradangan, serta membantu memproduksi dan mengatur neurotransmiter yang memengaruhi suasana hati dan fungsi otak kita.

Prof. Clarke menyampaikan bahwa sinyal dari mikroba di usus dapat memengaruhi banyak wilayah otak yang terkait dengan perasaan bingung.

Menurut dia, ini termasuk hipokampus yang bertanggung jawab pada pembelajaran dan memori; korteks prefrontal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan kejernihan pikiran; serta amigdala, pusat otak untuk memproses rasa takut dan kecemasan.

Para ilmuwan belum menemukan cara spesifik untuk mengatasi kabut otak melalui usus, tetapi menjaga kesehatan usus dapat mendukung pikiran yang lebih jernih.

Prof. ​​​​​​​Clarke mengatakan, kesehatan usus bisa dijaga dengan mengonsumsi makanan yang dapat mendukung keseimbangan mikrobioma usus.

Karena serat merupakan sumber nutrisi penting bagi mikroba usus, maka makanan kaya serat seperti sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, gandum utuh, dan makanan hasil fermentasi sebaiknya ditambahkan ke dalam menu makanan harian.

Selain itu, psikolog Megan Riehl dari Universitas Michigan yang berspesialisasi pada gangguan pencernaan dan kondisi pencernaan lainnya menyampaikan pentingnya tidur cukup, olahraga rutin, serta pembatasan konsumsi kafein dan makanan olahan rendah serat untuk kesehatan pencernaan.

Baca juga: Kesehatan pencernaan dan otak anak saling berhubungan

Baca juga: Saluran cerna yang sehat penting bagi perkembangan otak dan otot anak

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |