Jakarta (ANTARA) - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menekankan pentingnya langkah adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah dan krisis ekologi yang berpotensi memengaruhi stabilitas global.
Ketua Umum LPOI Said Aqil Sirodj mengatakan konflik geopolitik yang berlarut-larut serta meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung terhadap berbagai sektor strategis negara.
“Perlu dilakukan adaptasi dan mitigasi atas berbagai kemungkinan yang terjadi akibat perang dan ancaman bencana ekologis,” kata Kiai Said Aqil dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia menilai potensi gangguan terhadap kedaulatan pangan, energi, serta stabilitas sistem keuangan perlu segera diantisipasi melalui kebijakan yang terencana dan langkah strategis pemerintah.
Di samping itu, dinamika global tersebut dapat berdampak pada aspek keagamaan, khususnya terhadap kenyamanan dan kelancaran pelaksanaan ibadah haji dan umrah bagi umat Islam.
“Kedaulatan pangan, energi, dan keuangan, serta kenyamanan pelaksanaan ibadah haji dan umrah yang berpotensi terganggu harus segera dicarikan solusi,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan kemandirian nasional, termasuk upaya mengurangi ketergantungan impor di berbagai sektor, perlu dipercepat guna menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
Di sisi lain, Kiai Said yang juga mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menambahkan kedaulatan suatu negara saat ini tidak hanya ditentukan oleh kedaulatan teritorial, tetapi juga oleh kedaulatan digital, aset sejarah dan budaya, kedaulatan ekologis, pangan, energi, serta penguasaan teknologi masa depan.
Ia mendorong negara-negara dalam kelompok BRICS dan mitra perluasan (BRICS Plus), untuk berperan lebih aktif dalam merespons dinamika dan persoalan global.
“Perang atas nama apapun harus dihentikan dan krisis ekologi harus diakhiri agar peradaban dunia tidak bergerak menuju kehancuran,” katanya.
Kiai Said juga mengusulkan kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan audit neraca sumber daya alam dan sumber daya manusia guna memetakan potensi nasional yang dapat menjadi modal pembangunan negara.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































