Jakarta (ANTARA) - Lembaga Pemeriksa Halal Nahdlatul Ulama Halal Assurance Center (LPH NU-HAC) mendampingi proses pemeriksaan halal perusahaan petrokimia asal Thailand, hingga berhasil memperoleh Sertifikasi Halal untuk 137 produk resin plastik.
“Dalam proses sertifikasi, LPH NU-HAC melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap produk, sistem operasional, serta rantai pasok perusahaan guna memastikan pemenuhan standar halal yang berlaku di Indonesia,” ujar Ketua LPH NU-HAC Abdul Hakam Aqsho di Jakarta, Rabu.
PT PTT Global Chemical Public Company Limited (GC) merupakan produsen resin plastik pertama dari Thailand yang memperoleh Sertifikasi Halal Indonesia. Sertifikasi itu mencakup produk dalam kategori High Density Polyethylene (HDPE), Linear Low Density Polyethylene (LLDPE), Low Density Polyethylene (LDPE), Polystyrene (PS), dan Hexene (Monomer).
Perusahaan tersebut melayani berbagai sektor, mulai dari kemasan, makanan dan minuman, barang konsumsi, konstruksi, kelistrikan dan elektronik, pertanian, hingga kebutuhan industri umum.
Abdul Hakam mengatakan sertifikasi terhadap bahan baku industri dinilai semakin penting. Tidak hanya produk akhir, tetapi juga material pendukung yang digunakan dalam proses produksi harus dapat ditelusuri sumber dan proses pembuatannya.
Baca juga: Kemendag bidik pasar Timur Tengah untuk produk F&B halal RI
Ia mengatakan proses pemeriksaan hingga penerbitan sertifikat halal dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 40 hari, didukung oleh kerja sama dan keterbukaan pihak GC.
Pemeriksaan lapangan dilakukan tim auditor halal LPH NU-HAC pada 14-17 Juli 2026 di fasilitas produksi dan gudang logistik GC di Thailand. Pemeriksaan mencakup produk, sistem operasional, serta rantai pasok perusahaan untuk memastikan pemenuhan standar halal yang berlaku di Indonesia.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar penerbitan Sertifikasi Halal Nomor ID31410078824010726 yang mencakup 137 produk yang diajukan. Seluruh produk memperoleh sertifikasi tanpa memerlukan perubahan formulasi maupun penyesuaian terhadap proses produksi yang telah berjalan.
Abdul Hakam mengatakan Thailand menjadi salah satu dari sejumlah negara yang telah bekerja sama dengan LPH NU-HAC dalam pemeriksaan halal.
“Kita sudah ada 11 negara untuk bekerja sama pemeriksaan halal. Thailand ini menjadi yang ketiga, ada Belarusia, Jepang, China, Ceko, Rumania, Italia, Prancis, Belgia, dan Skotlandia,” katanya.
Baca juga: Kemenpar-BI gelar pelatihan guna perkuat wisata ramah muslim
Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla menilai sertifikasi tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap sistem jaminan halal Indonesia, termasuk kapasitas LPH NU-HAC dalam melakukan pemeriksaan di luar negeri.
“NU Halal Center ini diberikan oleh BPJPH, lembaga penjamin halal di Indonesia, untuk melakukan pemeriksaan halal termasuk pada tingkat global. Jadi, kita sekarang ini sedang melakukan pemeriksaan halal di berbagai negara, salah satunya di Thailand,” katanya.
Menurut Ulil, pemeriksaan halal terhadap resin plastik penting karena material tersebut digunakan sebagai bahan pendukung dalam berbagai produk, termasuk kemasan makanan dan minuman.
Ia mengatakan botol minuman dan berbagai jenis kemasan pangan yang digunakan masyarakat sehari-hari antara lain berbahan resin plastik. Karena itu, ketertelusuran bahan baku dan proses produksinya perlu dipastikan memenuhi standar halal.
Direktur Utama GC Thaiyaphat Jittiborripat mengatakan sertifikasi halal tersebut menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam memperkuat pasar Indonesia.
Ia mengatakan sertifikasi halal tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi juga mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kualitas, transparansi, ketertelusuran, dan kepercayaan pelanggan.
“Kami berharap dapat terus melanjutkan kemitraan yang kuat ini dengan PBNU dan LPH NU-HAC,” ujarnya.
Baca juga: BPJPH perkuat kompetensi SDM di daerah jelang Wajib Halal
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































