KSP nilai pembinaan atlet masih terhambat ego sektoral

1 week ago 9

Jakarta (ANTARA) - Pembinaan atlet Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan, salah satunya ego sektoral yang membuat program antarlembaga tak berjalan sinkron sehingga perlu diurai agar talenta olahraga berkembang secara berkelanjutan hingga mencapai level dunia, kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Lindsey Afsari Puteri.

"Bahwa tata kelola data yang masih terfragmentasi, yang membuat pencarian bakat menjadi sporadis dan agak kurang terpantau. Kemudian pembinaan yang masih ego sektoral, kurang sinkron antarlembaga," kata Lindsey dalam Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, Kamis.

KSP mencatat akses kompetisi yang belum merata di daerah, penerapan sport science yang belum optimal, serta belum adanya kepastian mengenai manajemen karier dan transisi masa depan atlet.

Menurut Lindsey, Indonesia memiliki banyak potensi atlet, tapi tantangan utama terletak pada kemampuan sistem pembinaan dalam menjaga perjalanan mereka sejak tahap pembibitan hingga prestasi tertinggi.

"Rantai pembinaan ini tidak boleh putus di tengah jalan," ujarnya.

Untuk mengatasinya, KSP mendorong lima pergeseran strategis dalam pengelolaan talenta olahraga, mulai dari penguatan orkestrasi dengan pembagian peran yang jelas antarpemangku kepentingan.

Berikutnya, membangun satu basis data atlet, menerapkan pembiayaan berbasis kinerja, memperkuat ekosistem pendukung atlet, serta evaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan performa.

Baca juga: Kemenpora sinkronkan MTN dan DBON dari pelajar hingga atlet elite

Lindsey mencontohkan persoalan data sempat muncul ketika pemerintah menyiapkan program beasiswa perguruan tinggi dengan kuota 200 atlet.

KSP ketika itu mengalami kesulitan memperoleh basis data yang dibutuhkan meskipun jumlah atlet yang berpotensi menerima beasiswa cukup banyak.

KSP juga mendorong agar pembiayaan olahraga tidak lagi disusun terlebih dahulu tanpa mengacu pada sasaran yang hendak dicapai.

"Anggaran harus mengikuti dokumen trajectory dan target prestasi, bukan dibalik," kata Lindsey.

Menurut dia, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur berdasarkan jumlah talenta yang ditemukan, melainkan dari kemampuan sistem mengawal atlet untuk terus berkembang hingga mencapai podium dunia.

KSP akan berperan mengurai hambatan dan mempercepat pelaksanaan kebijakan tanpa mengambil alih fungsi teknis kementerian dan lembaga terkait.

"Jangan biarkan satu pun talenta emas Indonesia kehilangan peluang juara hanya karena kelemahan koordinasi dan kolaborasi ataupun sumbatan komunikasi di antara kita," ujar Lindsey.

Baca juga: Kemenpora perketat pengawasan anggaran pelatnas bersama BPKP

Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |